Tampilkan postingan dengan label GLN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GLN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juni 2021

Euforia Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2021 : Kembali ke Konsep GLN 2019

 


Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang setiap tahun diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 2021 pun sudah muncul sayembaranya. Berbeda dengan tahun lalu (2020) yang lebih menyasar anak SD kelas atas (4-6), tahun ini kembali ke  konsep atau kebutuhan seperti tahun 2019 lalu. Dimana, target pembacanya adalah anak Paud dan SD kelas bawah (1-3). Bedanya, tahun ini SD dibagi dua, karena mungkin mengacu pada penjenjangan buku anak yang kembali mengalami perubahan.

Syarat GLN ini pun agak berbeda dari tahun 2019 lalu. Jika tahun 2019 lalu mensyaratkan adanya buku sebanyak 5 eksemplar sebagai portofolio penulis, tahun ini tidak. Tahun ini lebih ke mengirimkan cerita dalam format yang sudah disediakan, yaitu dalam bentuk papan cerita (storyboard). Dan harus ada satu halaman contoh ilustrasi dari naskah tersebut. Tahun 2019 hanya mengirimkan sinopsis/ konsep dengan contoh ilustrasi 1 halaman (contohnya ini tidak harus berdasarkan naskah). Itu bedanya ya. lainnya hampir sama, hanya saja alhamdulillah tahun ini lebih mudah, karena dikirim lewat email saja. Tahun 2019 harus mengirimkan dalam bentuk cetak juga plus buku sebagai portofolio.

Sama seperti tahun 2019, tahun ini pun saya tetap menggandeng Ilustrator karena tak bisa menggambar/mengilustrasi buku. Saat musim sayembara seperti ini memang ilustrator buku anak sangat diperlukan. Bahkan banyak yang mendapatkan pesanan hingga akhirnya menutup/menolak pesanan lainnya. Makanya diperlukan kesigapan dan ketepatan dalam memilih ilustrator yang cocok buat naskah kita. Tahun ini memang antusiasme penulis baik yang senior maupun yang baru mencoba lebih besar ketimbang tahun 2019. Bahkan tahun ini ada webinarnya, diadakan oleh sebuah komunitas online dengan menggandeng narasumber salah satu pakar yang memang sangat paham perbukuan serta GLN. Semua sangat semangat, dan saya yakin pendaftar tahun ini mengalami kenaikan yang signifikan. 

 

TEMA DAN FOKUS KARAKTER 

Bicara tema, tahun ini jauh lebih sederhana ketimbang tahun 2019. Ada tema yang sama dan ada pula yang baru. Bagi saya tema yang sekarang jauh lebih bisa dipahami dan lebih cocok untuk tema buku anak-anak.

Tema yang disediakan oleh panitia sayembara meliputi : 

1. Keluarga dan Sahabat

2. Satwa dan Tumbuhan

3. Hobi/Kegemaran

4. Kesehatan

5. Kearifan lokal/Tradisi

Selain tema, yang disyaratkan panitia adalah fokus karakter. Hal ini mengacu pada pendidikan karakter yang sedang benar-benar dicanangkan pemerintah. Ada dua puluh lebih fokus karakter yang bisa diambil oleh penulis, yaitu:religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, bertanggungjawab, berpikir kritis dan percaya diri. 

Dari sekian banyak fokus karakter, penulis bisa mengambil maksimal 3 fokus karakter per cerita. Penulis juga boleh mengirimkan lebih dari satu karyanya dan akan dipilih satu per level pembaca sesuai dengan keputusan juri. Oh iya, tahun ini GLN hanya akan menerima 75 naskah cerita anak untuk kategori Prabaca 2 (TK/Paud), Membaca Dini dan Membaca Awal. 

 

HADIAH 

Sama dengan tahun 2019, hadiah tahun ini juga masih sama, yaitu 12.000.000/judul buku (dipotong pajak). Dan bagi yang kerjasama bareng Ilustrator juga akan membagi rezekinya itu nanti setelah cair pastinya. 

Kok murah? 

Ya, hitung-hitung bakti untuk bangsa, kenapa tidak? begitu kata seorang senior di bidang perbukuan. Lagian bisa dijadikan tambahan portofolio nantinya. Bangga kan karyanya nampang di website Kemendikbud. hehehe 


FORMAT JURI BARU DAN PENGUMUMAN PEMENANG.  

Tiba saatnya yang ditentukan untuk pengumuman, lalu diundur seperti biasanya. Saya agak lumayan surprise menerima bocoran soal juri tahun ini. Bukan kaget gimana-gimana, hanya tak menyangka ternyata beda dari yang dulu. hehehe

Saya cukup tahu setidaknya empat dari juri yang dibocorkan itu. Dan, saya tahu mereka adalah orang-orang hebat di bidangnya. 

Dengan wajah-wajah baru yang penuh semangat, saya pikir tahun ini akan menghasilkan buku-buku karya penulis dan ilustrator Indonesia lebih bagus dari tahun 2019. Semoga ya, kita doakan. 

Akhirnya, tiba waktu melihat pengumuman kelulusan, dan alhamdulillah saya tidak termasuk yang lolos untuk hadir ke Jakarta. Dilihat berkali-kali pun, sama hasilnya, nggak ada nama saya (hahaha). Iyalah memang tidak lolos. 

Benar dugaan saya, ternyata memang jumlah pendaftar tahun ini sangat banyak. Meningkat jauh dari tahun 2019. Tahun ini ada sekitar 1421 naskah yang masuk. Wow bukan? Begitu kata teman-teman yang lolos dan sudah buat grup pastinya dengan panitia.

Oh iya, tahun ini meski masih pandemi, sepertinya akan dilaksanakan gathering offlinea atau pertemuan penulis seperti tahun 2019. Beda dengan GLN tahun 2020 yang daring pembekalannya. 

Karena saya tidak lolos artinya saya tidak ada pengalaman untuk melanjutkan cerita dalam acara pertemuan penulis GLN 2021 seperti tahun 2019 lalu. Maka tulisan ini pun seperti hanya cukup sampai di sini. Saya sedikit kecewa pastinya, karena merasa sudah melakukan semua dengan maksimal. Saya pikir sangat wajar ya. Tapi, saya yakin semua ada yang Maha Mengatur. Dan, ini adalah terbaik bagi saya. Agar saya selalu mau belajar lebih baik lagi ke depannya. 

Buat teman-teman yang terpilih/lolos ke Jakarta, selamat sekali lagi. Saya ikut senang, karena semua yang lolos, sebagian besar adalah teman saya juga. Semoga lancar acaranya dan mendapat perlindungan Tuhan, aamiin. Semangat berkarya yang terbaik untuk anak Indonesia.



 




 

 

Kamis, 30 Januari 2020

Inilah 3 Cara Asyik Bekerjasama dengan Ilustrator




Halo selamat pagi …!

Sepertinya lomba penulisan buku anak dalam rangka Gerakan Literasi Nasional (GLN) oleh pemerintah sudah mulai terendus bau-baunya (bahasa apa ini?). Dengan adanya lomba penulisan buku anak yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Sumatera Utara, sepertinya lomba sejenisnya akan segera bertebaran di berbagai provinsi maupun nasional.

Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam pembuatan buku anak terutama untuk anak paud/TK dan SD, tentu saja membutuhkan kerjasama apik dengan para illustrator.

Apa sih illustrator?

Ilustrator itu orang yang akan mengilustrasi atau menggambarkan buku penulis sesuai dengan kehendak penulis.

Nah, dalam buku anak kan malah lebih dominan gambar daripada teksnya, makanya posisi illustrator ini sangat penting. Dan, setiap lomba buku anak terutama untuk sasaran anak paud/TK dan SD dimana pun, pasti mensyaratkan adanya gambar yang akan menyempurnakan cerita. Saat itulah penulis yang tidak bisa menggambar sendiri, diwajibkan mencari illustrator untuk diajak kerjasama.

Bagaimana cara bekerjasama dengan illustrator?

Bagi penulis pemula, hal seperti ini kadang dianggap rumit / sulit. Apalagi jika harus mengeluarkan biaya sendiri untuk bayar illustrator, padahal kan belum tentu menang. Belum lagi jika illustrator mintanya mahal, hihihi dijamin bakalan mundur teratur untuk ikutan lomba.

Sebetulnya cara kerjasama dengan illustrator itu tidak selalu harus bayar, setidaknya ada 3 cara asyik bekerjasama dengan illustrator yang akan saya bahas di postingan ini.

1.      Bayar Putus
Maksudnya kita bayar illustrator itu per halaman. Jika buku kita ada 10 halaman, dan biaya per gambarnya 100.000, maka kita bayar 1 juta rupiah. Besarnya harga beda-beda tiap illustrator. Ada yang 100-150 untuk gambar tunggal (single), 150-250 untuk gambar spread (satu gambar untuk dua halaman). Tetapi ada juga yang memberikan harga di bawah atau bahkan di atas rate itu. Tergantung tingkat kesukaran dan kerumitan gambar sepertinya. Dan juga tergantung jam terbang illustrator kali ya.
Pembayaran gambar bisa dilakukan depe dulu dan dilunasi saat sudah selesai semua. Atau bisa juga dibayar di awal atau di akhir, tergantung kesepakatan bersama.  
Cara ini tidak mengikat penulis, artinya kalau gambar sudah selesai dan penulis menang, tidak ada kewajiban apa pun untuk memberikan pembayaran lagi ke illustrator, kecuali memang mau memberikan hadiah misalnya, boleh-boleh saja. Atau ada perkataan sebelumnya yang menyebutkan akan memberikan pembayaran tambahan jika menang (ini mah wajib).

2.      Perjanjian fifty-fifty jika menang
Nah yang kedua ini penulis tak perlu keluar uang sama sekali di awal, karena perjanjiannya jika memang, hadiahnya bagi dua. Ini sebetulnya cukup adil, karena dua-duanya berisiko. Artinya jika tidak lolos atau tidak menang, dua-duanya tidak mendapatkan apa-apa. Jika menang, dua-duanya mendapat hadiahnya yang sama besarnya. Dalam hal ini, kedua belah pihak harus benar-benar sepakat dan saling support.

3.      Borongan
Nah kalau yang cara ketiga ini adalah sisitem borongan. Artinya, penulis pesan ke illustrator sebanyak 10 gambar misal dengan rinciannya. Terus Ilustrator memberikan harga sampai beres dan revisi 3 kali misalnya 3 juta rupiah. Penulis dalam hal ini boleh nego, dan harus mendapatkan kesepakatan yang sama-sama enak.

Yang perlu diingat adalah, biasanya gambar pun ada revsisinya dari panitia lomba. Oleh karena itu, penulis harus benar-benar bersepakat sampai revisi oke ya. Dan yang lebih penting juga adalah kedua belah pihak harus sama-sama enak dan ikhlas, karena jika salah satunya kurang ridho, saya pikir akan menjadi hambatan dalam prosesnya.

Menurut saya sih, Ilustrator dan penulis harus satu visi, supaya bisa saling mendoakan dan bukunya bermanfaat. Karena dalam buku itu ada rezeki yang diperjuangkan bersama. Jangan sampai salah satu ada yang terpaksa, hingga misalnya membuat gambar pun alakadarnya (kualitasnya jauh dari kemampuan asli yang dimilikinya). Mending kalau lolos, la kalau nggak, kan penulis dirugikan (terutama bagi yang dibeli putus/borongan). Oleh karena itu, sepakat itu wajib hukumnya ya.

Nah, itu dia tiga cara asyik bekerjasama dengan illustrator versi saya. Apkah versi lainnya ada? Silakan hubungi illustrator favorit kalian. Intinya yang penting sama-sama suka ya, tidak boleh ada yang merada terdzolimi. Selamat mencoba dan selamat ikut lomba.

Rabu, 22 Januari 2020

5 Tips Jitu Agar Lolos dalam Seleksi Penulis Gerakan Literasi Nasional (GLN)



Apa sih Gerakan Literasi Nasional (GLN)? Jika kalian penulis,  terutama penulis buku anak pasti tahu apa itu GLN. Karena setiap tahun sejak tahun 2017, pemerintah khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan event ini dengan tujuan pengadaan buku-buku berkualitas untuk anak-anak Indonesia dari jenjang Paud hingga SMA. 

Sebagaimana kita ketahui bersama, sejak tahun 2016 pemerintah mulai menggencarkan program Gerakan Literasi Nasional. Apalagi sejak adanya sebuah survey yang menyatakan bahwa negara Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari puluhan negara dengan minat baca paling rendah. 

Cara Penjaringan Penulis

Biasanya, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Jakarta, akan terlebih dahulu menjaring calon penulis untuk menuliskan buku bagi anak-anak Indonesia. Setelah itu, barulah bermunculan lomba-lomba GLN di daerah (provinsi). Pengumuman penerimaan calon penulis biasanya dilakukan lewat media sosial dan website. 

Seleksi calon penulis di Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan pada awalnya (tahun 2017-2018) semua peserta mengirimkan karya/buku (buku dummy) untuk dinilai. Setelah dinilai, barulah diadakan pertemuan penulis bagi yang lolos. Tetapi pada tahun 2019 kemarin berbeda. Tahun lalu di mana saya adalah salah satu yang lolos, penulis hanya mengirimkan sinopsis lengkap dan 5 eks buku yang pernah diterbitkan. 

Sementara itu, di tingkat provinsi masih memakai metode yang sebelumnya, yaitu penulis diwajibkan mengirimkan karya sudah jadi dalam bentuk dummy. Untuk tahun ini, kita tunggu saja pengumumannya ya. 

Nah, banyak yang bertanya pada saya bagaimana agar lolos GLN? Saya pun berupaya merangkumnya versi saya tentunya ya. Jadi kalau beda, ya boleh-boleh saja. 

1. Bergaullah dengan penulis senior

Ini serius, terutama bagi penulis pemula yang ingin ikut daftar. Mengingat para senior inilah yang biasanya memiliki informasi terlebih dahulu jika sudah ada pengumuman. Jika kalian sudah kenal juga bisa bertanya yang tidak dipahami. Karena banyak kok senior yang baik alias mau menjawab pertanyaan junior sepanjang pertanyaannya nggak aneh ya. Ini pengalaman saya, di mana sebelumnya nggak pernah tahu apa itu GLN? Karena bergaul dengan penulis senior (berteman di medsos), akhirnya tahu dan mulailah mencoba daftar hingga lolos. 

2. Baca dengan Teliti Pengumumannya dan Taati

Setelah ada pengumuman, kalian bisa membaca dan menelitinya dengan seksama. Baca dan teliti kalau perlu tulis yang bagian pentingnya, agar tidak lupa. 

Apa saja yang harus diperhatikan? Tentu saja persyaratan, ketentuan dan yang penting deadline. Jangan lupa juga alamat pengiriman buku maupun alamat email untuk pengiriman karya kita (soft file). 

Dalam perjalanan pembuatan karyanya. kalian harus benar-benar mengikuti teknis atau aturan mainnya. JIka misalnya mengharuskan memakai jenis huruf sans serif atau huruf lainnya, ya harus pakai itu. Intinya taati semua aturan mainnya. 

3. Segera Bertindak 

Jika seleksinya meminta dalam bentuk karya, maka segeralah atur strategi pembuatan karya sesuai dengan kriteria dan persyaratannya. Jangan menunda. Segera cari ilustrator yang mau diajak  bekerjasama. Buatlah naskah sesuai syarat dan kriteria, jika meminta harus bermuatan lokal ya segera lakukan survey kecil-kecilan. Tetapkan mau ambil mulok apa dan masukkan dalam cerita anak. 

Jika panitia hanya meminta sinopsis, ya tinggal kirim sinopsis lengkap dari awal cerita hingga akhir. Ikuti semua syarat dan ketentuannya. 

4. Perhitungkan Waktu Pengerjaan hingga Deadline

Karena menulis cerita anak butuh banyak waktu, terutama soal ilustrasinya, makanya harus benar-benar diperhitungkan agar tidak melebihi deadline yang telah ditetapkan. Silakan berkonsultasi dengan calon ilustratornya. Kadang ada ilustartor yang full pekerjaan, tapi tetap bersedia mengerjakan, penulis kudu pastikan DL-nya beberapa hari sebelum deadline lomba. Karena kan kita juga butuh waktu untuk mencetak, menjilid dan mengirimkannya. Mending kalau digital printnya banyak di kota kalian, lah kalau cuma satu, kan antrinya minta ampun. 


5. Teliti lagi sebelum kirim 

Ketika karya sudah siap kirim sesuai ketentuan, jangan lupa untuk mericek kembali syaratnya. Siapa tahu ada file yang tertinggal dan belum dimasukkan ke dalam persyaratan. 


Nah, itu dia tips agar lolos dalam seleksi Penulis Gerakan literasi Nasional (GLN) versi saya. Semoga ada manfaatnya ya. 

Ingat, tugas kita hanya berusaha semaksimal mungkin, lolos alhamdulillah. Tidak juga tetap legowo, jadikan pengalaman untuk lolos di tahun berikutnya. Semoga berhasil!



Senin, 30 Desember 2019

Bagaimana Sih Keseruan Pertemuan Penulis GLN Tahun 2019? Ayo Baca Kisahnya : Seru dan Padat Ilmu!



Oke, setelah saya menuliskan syarat-syarat mengikuti GLN 2019, lalu saya dinyatakan lolos dan persiapan yang tidak mudah untuk menuju ke Jakarta, kini saatnya saya menuliskan tentang kegiatan selama di Jakarta sana. 

Ngapain saja sih kami? Apa sempat jalan-jalan?

Heboh pastinya. Secara hampir 100 orang penulis buku anak tumplek di sana. Mereka berasal dari seluruh penjuru nusantara. Dan saya pun sangat bangga bisa berada di antaranya. Ibarat kata anak bau kencur, ikutan reuni akbar penulis. hihi.. Sungguh anugerah Allah yang Maha Baik.

Pertama datang disambut Mas Sanjaya dan teman-teman panitia lainnya. Semua peserta registrasi sekaligus menyetorkan kwitansi transportasi selama perjalanan PP, lalu kami dibagikan name tag dan buku panduan kegiatan. Setelah itu, kami dipersilakan makan siang dan masuk kamar hotel. Waah... saya dalam keadaan lapar berangkat nyubuh dari Tasikmalaya, disediakan makanan yang banyak, saya terus terang kalap, Mak. Sampai isin dilihat Kang Ali wahahaha... 


Buku Panduan dan Name Tag

Setelah makan, alhamdulillah kami diberikan waktu istirahat saling mengenal teman sekamar masing-masing. Saya mencari nomor kamar, dan ternyata kuncinya sudah diambil Bu Anna yang sekamar dengan saya. Saya telepon beliau tapi nggak diangkat, lalu sayapun telepon ke telepon kamar, alhamdulillah dia sudah ada di kamar! Kami mendaapt kamar di lantai 8 (beruntung tidak di lantai 12. Emang kenapa? Ada deh haha). Akhirnya bertemu Bu Anna yang baik dan tidak sombong. Beliau ternyata seorang pakar pendidikan sekaligus konselor Paud. Kesan pertama lihat, Bu Anna adalah orang yang tegas dan jaim, tapi ternyata tidak sama sekali. Kami malah sering ketawa-tawa, baik di kelas maupun di kamar, tak peduli apa pun masalahnya, yang penting heppy we ceunah haha. 




Bersama my Roomate, Bu Anna

Wefie kita hihihi 

Hari Pertama Ngapain saja? (Rabu, 24 April 2019)

Hari pertama pembukaan dimulai pukul 15.30. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Sangat hikmat, secara kami semua dianjurkan memakai batik. Semarak corak batik yang keren dari seluruh pelosok nusantara berpadu dengan kehidmatan lagu Indonesia Raya. Sangat mengharukan bagi saya berdiri di sana. Acara dilanjut dengan doa dan laporan panitia. Selanjutnya adalah  sambutan oleh Bapak Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Prof Dr. Dadang Suhendar, M.Hum. Beliau memberikan paparan dan pandangan tentang literasi saat ini dan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah termasuk adanya pertemuan penulis bahan bacaan literasi baca-tulis 2019 itu. Beliau pun membunyikan gong pertanda pertemuan penulis dimulai! Yeaaayy!

Ada satu acara yang cukup mencuri perhatian kami, yaitu pemberian piagam penghargaan kepada seluruh penulis yang diawakili Kang Ali Muakhir. Serasa udah sah menjadi penulis, Mak! :)

Acara semakin ramai dengan adanya penampilan opera anak-anak yang bertemakan literasi tentunya. Tarian, nyanyian, drama berpadu dengan penampilan alami mereka nan Imut dan menggemaskan! Seruuu dan menghibur! Kalian anak-anak yang hebat!

Nah, acara hari pertama berakhir dengan sesi foto bersama. Seru dan meriweh pokoknya. Selfi dimana-mana, beruntung memiliki teman sekamar yang juga hobi berfoto, jadi kita bisa foto-foto sampai puas. 


Bersama sebagian penulis dan Pak BT

Pukul 18.00-19.00 adalah wkatu kami mandi, solat dan makan malam. Malamnya, kami harus masuk kelas lagi, belajar lagi materi "Strategi Pembuatan Bahan Bacaan Literasi Baca-Tulis untuk Pembaca Dini dan Pra Membaca" dengan narasumber Dr. Hurip Danu Ismadi, M.PD. Acara hari pertama selesai pukul 21.00. 

Hari Kedua Ada Apa? (Kamis 25 April 2019)

Hari kedua dimulai pukul 08.00 dengan materi "Ilustrasi sebaga Strategi Penguatan Cerita Anak." dengan Narasumber Bapak Sigit Priyasmono, seorang yang memang ahli di bidang ilustrasi. Materi yang didapat sangat banyak dan daging semua. Terutama soal pembuatan ilustrasi. Sebetulnya ini cocok banget sebagai materi bagi para Ilustrator, tetapi bagi saya yang sering kerjasama bareng ilustrator pun sangat bermanfaat. Acara berlangsung sampai pukul 10.00.


Foto kesekian kalinya hihi

Setelah 15 menit istirahat atau coffee Break, acara dilanjut dengan materi "Penjenjangan Buku Cerita Anak" oleh Mbak Sofie Dewayani, seorang penulis, trainer dan salah satu founder litara Foundation (kalau tidak salah). Bu Sofie mengupas tuntas tentang penjenjangan buku anak dan berbagai informasi keren lainnya. Acara berlangsung hingga pukul 12.15. 

Lalu kami istirahat hingga pukul 13.00 dan dilanjut oleh materi Pak Bambang Trimansyah, seorang yang tak asing lagi di kalangan penulis buku anak. Pak Bambang mengupas tuntas soal "Proses Kreatif Penulisan Cerita Anak". Banyak ilmu dan pengalaman yang dipaparkan beliau. Saya sebagai pemula sangat beruntung bisa mendengar materi Pak BT yang keren. Yang paling ingat dari materi Pak BT adalah soal awalan cerita dan tema buku anak yang sudah old, semacam tema liburan ke rumah nenek itu hihi... 

Pukul 15.00-15.30 kami istirahat dan solat, acara pun dimulai lagi dengan materi Bu Dewi Utama Fauziah dengan mengupas tuntas soal Kearipan Lokal dalam Cerita Anak. Dari beliau saya banyak tahu soal sejarah buku di Jepang, jenis buku-buku anak Jepang dan banyak hal deh yang kesemuanya membuat saya semakin kaya ilmu. Keren bu Dewi ini sering jalan-jalan ke luar negeri dengan khusus mengamati literasi bangsa yang dikunjunginya. Akutu pengen kayak gitu, Mak!

Jam 17.30-19.00 istirahat, mandi, solat dan makan malam. Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) menghangatkan suasana malam Jumat kami dengan materi Proses Kreatif Penulis untuk Membangun Penguatan Karakter dala, Cerita. Kang Abik begitu memesona memaparkan pembuatan karakter agar disukai pembaca. Acara diakhiri dengan foto bersama bareng sang maestro dalam dunia kepenulisan. Tentu saja ada banyak permintaan peserta kepada Kang Abik terutama soal foto (maklum beliau kan selebritis juga ya) hehe...



Kang Abik yang begitu berkharisma


Hari Ketiga Ngapain? (Jumat, 26 April 2019)

Hari Jumat ternyata sudah dibuatkan pengelompokkan kelas yang masing-masing dibimbing oleh para narsum kemarin. Seluruh penulis dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A dibimbing Pak Bambang Trim, Kelompok B oleh Bu Dewi Fauziah, kelompok C oleh Bu Sofie Dewayani dan kelompok D oleh Pak Sigit Priyasmono. Saya berada di kelompok D bersama Mbak Watiek Ideo, Mbak Dwi Rahmawati, Mas Redy, Mbak Widya Ros, Mbak Baby Haryani D, Mbak Tria Ayu, Teh Ina Inong, dan banyak yang lainnya sekitar 23 orang.  

Seharian kami diharuskan mempresentasikan buku apa yang akan dibuat dan ilustrasinya sebanyak 30 %. Semua tampak tegang! Hihihi... walau pun sudah dipersiapkan dari semalam bahkan sebelum berangkat ke jakarta, kalau harus presentasi kan lain lagi ceritanya. Urutan presentasinya dengan cara diundi pula! dan makin tegang deh kami haha... terutama saya deh.


Kita para punggawa kelompok D 

Tapi alhamdulillah sebelum pukul 19.00 malam, saya sudah maju presentasi dan mendapat masukan (lega). Tapi ada banyak penulis yang belum kebagian presentasi, alhasil dilanjut malam. Padahal, malam itu ada materi Bu Murti Bunanta dengan tema "Membuat Cerita Anak Mendunia!" . Penulis yang belum persentasi terpaksa tidak mengikuti sesi bu Murti ini. Dan, saya pun hanya bisa sampai jam 20.00 saja, karena ada telepon dari kakak saya, bahwasannya anak saya sakit di Tasik. Wah, kebayang kan rasanya? kaget iya, bingung iya, sedih iya. Alhasil dengan berurai air mata saya menemui panitia. Saya bilang mau izin pulang malam itu juga. 




Saat paling mendebarkan hihi

Perjalanan Pulang

Karena alasan anak sakit dan tidak mau berhenti menangis (kuyakin karena merindukan ibunya anak saya ini), saya pun diantar pulang oleh Mas Sanjaya yang baik hati. Mencari bus yang ke Tasikmalaya sekitar pukul 21.30 malam karena saya kan harus menyelesaikan urusan adiministrasi dulu. Alhamdulillah setelah berkendara motor dibonceng Mas Sanjaya, kami berhasil menembus kemacetan Jakarta. Saya pun menemukan bus terakhir menuju Tasik. Capek sangat, secara rencananya mau pulang naik pesawat dengan Kang Iwok besok paginya, tiketnya hangus deh hihihi..



Alhamdulillah....Allah Maha Baik 

Ya begitulah, emak-emak. Rempong, namun mengasyikan! Alhamdulillah semuanya membawa berkah buat saya. Ilmu yang banyak, silaturahmi, mengenal banyak hal, menemukan sosok yang sangat perhatian dan tentu saja diri saya yang memang berharga, setidaknya untuk putri saya. Capek tapi menyenangkan hingga tak terasa capeknya. Perjalanan panjang dari Mojokerto-Tasikmalaya-Jakarta PP dengan seorang asisten cilik yang merindukan emaknya. Momentum GLN 2019 ini sangat berpengaruh bagi saya, terutama dalam membuat keputusan untuk fokus menulis cerita anak dengan lebih percaya diri. 

Senang deh menjadi bagian GLN 2019, semoga buku yang saya buat berkolaborasi dengan Kang Ramdan bermanfaat untuk anak bangsa di seluruh nusantara. Doakan saya tahun depan juga menjadi salah satu penulis GLN 2020 ya, aamiin. 


Salah satu ilustrasi keceh di dalam buku Balapan Sampah karya saya.
Dibuat oleh Kang Ramdan (Endan Ramdan)

Itulah sekelumit curhatan saya tentang Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi Baca Tulis 2019 di Hotel Kartika Chandra Jakarta. Teman-teman saya ada yang sempat jalan juga ke Perpustakaan nasional di hari Sabtunya. Kalau saya sudah di Tasik dan memeluk si bungsu yang begitu bahagia melihat ibunya pulang. 




Minggu, 06 Oktober 2019

Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun 2019


Sebagian dari teman-teman penulis dari penjuru tanah air
(Dok. Yeti Nurmayati)

Setelah dinyatakan lolos seleksi, kami yang terdiri dari 96 penulis buku anak dikumpulkan dalam sebuah grup whatshapp. Di sanalah perkenalan dan segala tek tek bengek tentang proses selanjutnya diinfokan. Perasaan saya tentu saja very happy. Serasa mimpi. Serasa telah lulus jadi penulis beneran juga, wahahaha. Apalagi bisa berkenalan dengan para senior di dunia buku anak, seperti : Kang Ali Muakhir, Kang Iwok Abqary, Mbak Tria Ayu, Mbak Widya Ross, Mbak Watiek Ideo, Mbak Nindya Maya, Mas Redy Kuswanto, Mbak Baby Haryani Dewi, Mbak Wylvera, Teh Ary Nilandari dan lain-lain. Pokoknya nama-nama penulis yang selama ini aku baca di cover buku mereka, akan segera saya temui langsung di Jakarta. 


Berdasarkan planning panitia, kami akan dikumpulkan di Hotel Kartika Chandra Jakarta selama tiga malam empat hari. Tepatnya tanggal 24-27 April 2019 (Rabu-Sabtu). Horeee... akhirnya emak bisa piknik juga! Ahaha, kok piknik sih? Belajar keles. 


Tanda Pengenal dan Buku Panduan
(Dok. Yeti Nurmayati)


MENGONDISIKAN ANAK-ANAK

Tanggal telah ada. Emak malah jadi deg-degan, karena tanggal 22 April itu adalah Ujian Nasional anak SD. Kebetulan sulung saya, Kak Aziz memang kelas enam dan akan ikut UN pastinya. Saya coba bicarakan dengan Kakak tentang jadwal keberangkatan Emak. Secara emak kan jauh dari keluarga besar, keluarga perantau. Jika emak pergi, otomatis kakak dengan ayahnya. Nah saat itu, Ayahnya ada acara juga ke Surabaya, meeting kantor. Jadilah emak makin bingung. 

Alhamdulillah si Kakak sendiri akhirnya yang kasih solusi. Di hari pertama, dia akan nginep di rumah temannya. Hari kedua kebetulan papanya pulang. Dia hanya akan menginap semalam saja. Sulung saya ini memang sudah mandiri soal belajar. Jadi saya tak khawatir lagi kalau soal persiapan materinya dia. Oke kakak udah siip. Nah giliran si adik nih. Saat itu adik masih TK B, saya pikir dia lebih baik dititipkan di Tasikmalaya saja di rumah kakak saya. Kebetulan teteh saya mau merawatnya. Soalnya kalau dibawa ke acara, pertama takut mengganggu acara yang formal, kedua takut bosan, ketiga takut kemana-mana dan saya gak bisa konsentrasi menyerap ilmu. 

Alhasil saya berangkat hari Selasa ke Tasikmalaya dulu untuk menitipkan si adik. Oh iya saya kan emang aslinya Tasikmalaya, walaupun tinggal di Mojokerto hehe. 

Baca keseruannya : Bagaimana sih Keseruan Pertemuan Penulis GLN 2019?


MENGURUS SURAT PERJALANAN DINAS

Ada cerita seru sekaligus menjengkelkan dalam mengurus surat perjalanan dinas. Surat ini dimaksudkan agar segala bentuk pengeluaran transportasi diganti oleh panitia. Dalam praktinya katanya hanya tinggal minta tanda tangan dan stempel kepala desa dimana penulis tinggal. Oke saya mulai datang ke kantor kepala desa. Pertama kali Pak Lurahnya tidak ada karena saat itu lagi masa-masa Pemilu. Katanya beliau sedang sibuk di lapangan. Oke saya akan kembali besok. 

Besoknya saya kembali lagi ke kantor kepala desa. Ternyata Pak Lurah yang terhormat pun masih tidak ada. Lalu tiba-tiba ketika saya menunggu, ada dua orang mahsiswa sepertinya yang juga mencari Pak Lurah. Seorang Ibu pegawai memberitahu saya untuk ikut rombongan untuk menemui bapak yang terhormat tersebut. Oke saya pun mengikuti mereka. Dan, sampailah kami di tempat usaha Bapak Lurah. Beliau ada, sedang merokok. Setelah antri, saya kebagian terakhir. Saya utarakan maksud dan tujuan saya dan menyerahkan lembaran untuk ditanda tangani. Berbagai pertanyaan pun saya jawab dengan sebaik-baiknya. Walau pun ada beberapa perkataan yang terdengar cukup sinis dilontarkan olehnya yang bicara dengan pegawainya. Saya tahu dari raut wajah keduanya kalau ada gelagat tidak enak, tapi saya abaikan. Entah apa maksud keduanya? Intinya beliau tidak mau menandatangani langsung. 

"Mbak, minta stempel saja dahulu ke kantor kepala desa," katanya. 

Saya yang polos los, menurut. Saya pun balik lagi ke kantor kepala desa untuk minta stempel dulu. Ketika balik lagi ke tempat bapak Lurah tadi, beliau sudah tidak ada lo. Saya tanya ke pegawainya pun tidak ada yang tahu. Lemes deh saat itu juga, padahal berangkat besoknya lo. Nggak ada waktu lagi. 

Lalu saya pun balik ke kantor kepala desa, curhat lah ke sekretaris desa. Beliau menyarankan ke rumahnya saja. Subhanallah, apakah sesusah itu meminta tandatangan seorang kepala desa? Saya menangis karena kesal dan teringat Bapak saya almarhum. Bapak saya menjadi kepala desa selama dua periode dan alhamdulillah beliau seorang yang baik. Beliau tak pernah menyusahkan atau pun menghalangi siapa pun yang ingin berkembang. 

Ada seorang teman mengatakan, mungkin karena saya tak memberinya uang. Lah kalau soal itu, saya mau saja memberikan asal ditandatangani dulu la ya. Singkatnya saya down, saya marah banget karena merasa dipermainkan. Untuk ke rumahnya? Sorry la ya, emangnya saya pengemis? Bukankah dia yang pelayan bagi masyarakatnya?

Sehabis Maghrib, saya pun coba menghubungi panitia, dan katanya bisa minta tandatangan ke RW atau RT. La dalah, tahu gitu nggak usahlah saya ketemu Bapak Mengenaskan itu. Pak RW rumahnya di depan rumahku lo. Akhirnya menemui Pak Rw, dan beliau ternyata lagi di luar kota, ya Allah down lagi. Kesempatan terakhir adalah ke Pak RT! Bismillah deh... alhamdulillah Pak RT ada dan tuk tuk! beres tuh distempel. Masya Allah, sungguh perjuangan yang menyedot energi banget gaess.  

Baca perjalanannya : Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis GLN 2019


TRANSIT TASIKMALAYA DAN PERJALANAN MENUJU JAKARTA

Saya berangkat duluan menuju Tasikmalaya pakai kereta api. Di rumah Kakak, saya menitipkan adik Azni. Saya pun janjian dengan Kang Iwok Abqary di stasiun untuk keberangkatan pagi-pagi menuju Jakarta. Menurut panitia sih, transport saya hanya dihitung dari Tasikmlaya saja karena saya transit, kalau mau diganti full harus berangkat dari Mojokerto. Padahal yang lebih mahal justru dari Mojokerto ke Tasikny lo. Tapi sekali lagi saya mengikhlaskan semuanya. Ini adalah tentang membuat buku anak yang baik, dan pasti saya pun akan mendapat banyak ilmu dan pengalaman, so sebetulnya bayar pun nggak masalah. 

Selama perjalanan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengorek berbagai informasi kepenulisan dari Kang Iwok. Tahulah, beliau salah satu penulis anak yang tak diragukan lagi kemampuan dan pengalamannya. Kang Iwok sosok yang sangat baik, sayang keluarga dan sayang kucing-kucingnya hihi. Dan Kang Iwok pun sangat terbuka  menceritakan segala pengalamannya kepada saya yang masih harus banyak belajar. 


Duo Penulis keren (Dok. Yeti Nurmayati)

Sampailah kami di statsiun Bandung, dengan bantuan Kang Iwok saya pun dibelikan tiket menuju Jakarta. Kami kebetulan beda gerbong, dan tak terduga saya duduk bersama seorang perempuan yang terdengar hebat. Dia adalah seorang dosen yang katanya sering ke luar negeri. Dia juga menceritakan tentang suaminya, anak hingga pekerjaannya sebagai sekretaris seorang boss besar. Selalu ada pelajaran yang saya ambil daris ebuah percakapan. Dari Ibu yang ternyata bergelar Doktor, saya mendapat banyak informasi tentang sekolah anak-anak, tentang banyak hal deh. Walau pun kadang dia sedikit sombong. Apalagi dia tahu saya seorang ibu rumah tangga biasa. hehe... Saya sih santai saja, berusaha jadi pendnegar yang baik. Tak terasa sampai juga di Jakarta, eh ternyata satu kereta juga sama Kang Ali Muakhir. Uwoow kan, saya langsung minta foto dong ehehe.. 


Bersama Kang Ali Muakhir
(Dok. Yeti Nurmayati)

Sesampainya di hotel, kami dipersilakan untuk registrasi. Heboh banget lo, soalnya biasanya hanya bertegur sapa lewat dunia maya, akhirnya dipertemukan langsung. Panitia sudah membuat daftar teman sekamar yang akan jadi teman tidur selama tiga malam di hotel tersebut. Saya tenyata dipasangkan dengan Ibu Ana Widyastuti, seorang kepala sekolah seklaigus dosen di Depok. Beliau sosok yang hebat, inspiratif dan sangat bersemangat belajar walaupun usianya tak sudah tak lagi muda (sama dengan saya). Bu Ana ini saat acara memakai alat bantu jalan, karena katanya pasca kecelakaan dan belum sembuh total. Masya Allah, saya sangat terinspirasi oleh semangat belajarnya. Bu Ana juga adalah seorang penulis buku anak yang lebih banyak membuat buku aktivitas. Dari beliau, saya banyak mendapat ilmu. 


Bersama Bu Ana Widyastuti (Dok. Yeti Nurmayati)

Selama tidur dengan Bu Ana, saya selalu happy. Kami tidak jaim, kami apa adanya. Dan, dia sosok yang lucu, jadinya kita banyak ketawa-ketiwi. Pokoknya selama dua hari saja, kami sudah sangat akrab dan kompak. Bahkan di malam terakhir kami berencana nonton film Avenggers : Endgame kalau tidak salah. Sayangnya, saya harus pulang duluan karena sesuatu hal (nanti akan saya ceritakan di tulisan berikutnya). Saya bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan karena tidak smepat ketemu ketika saya mau pulang duluan. 

Itulah sekelumit cerita perjalanan saya menuju pertemuan penulis GLN 2019. Tentu saja banyak hikmah di dalamnya yang memberikan pelajaran berharga bagi saya. Tunggu cerita lainnya ya. 








Senin, 09 September 2019

Persyaratan Mengikuti Seleksi Penulis Dalam Acara Gerakan Literasi Nasional (GLN) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2019




Bulan Februari 2019 ada pengumuman tentang adanya kegiatan seleksi penulis buku anak untuk acara Gerakan Literasi Nasional yang digelar oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebetulnya kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun oleh pemerintah dalam rangka mencerdaskan anak bangsa dan dalam upaya meningkatkan minat literasi bagi anak-anak Indonesia. Namun, saya hanya tahu tahun 2019 ini saja, tahun sebelumnya belum tahu. Jadi inilah kali pertama saya ikut berpartisipasi. 


Berbeda dengan tahun lalu, tahun 2019 ini ketentuannya lebih mudah katanya. Kalau tahun sebelumnya harus menulis naskah lengkap lalu dicetak jadi dummy (buku contoh, tahun 2019 panitia hanya meminta outline saja. Nah, walau pun masih terbilang baru di dunia menulis buku anak, tapi saya ikut tertantang untuk ikutan daftar.

Baca juga : Kisahku : Meraih Keberkahan dari Kesungguhan Menerapkan Proyek Literasi Dalam Keluarga 


SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI

Beberapa persyaratan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut :

1. FC KTP
2. Surat Pernyataan keaslian naskah dan kesediaan untuk mengikuti serangkaian kegiatan offline di Jakarta
3. Outline naskah yang terdiri dari Tema, Judul, fokus karakter, target pembaca dan sinopsis
4. Contoh gambar dari Ilustrator beserta biodatanya
5. Biodata penulis lengkap plus foto.
6. FC sertifikat kepenulisan atau prestasi (kalau punya).
7. Contoh buku yang pernah ditulis 5 eks (harus yang ber-ISBN)
8. Surat Pernyataan keaslian naskah dan kesediaan untuk hadir saat pertemuan plus materai 6000

Kurang lebih syaratnya itu. Tapi ya tidak mudah juga bagi saya. Yang paling berat tentu saja harus mengumpulkan buku karya saya sebanyak 5 eks. Secara saya hanya baru punya satu buku saja waktu, itu pun duet dengan Kakak Nazlah Hasni. Ya, saya pun mengumpulkan 5 buku saya yang berjudul "Kisah Hebat Hewan Langka di Dunia" penerbit Elex Media KOmputindo. Satu bukunya harga 98.000 an lo coba kali 5 berapa? Hehehe.. (lumayan kan modalnya) dengan catatan belum tentu lolos. 

Tapi niat saya waktu itu kalau pun nggak lolos nggak apa-apa toh buku saya nantinya akan tetap dibaca anak-anak Indonesia. Niatkan saja sedekah, beres. Karena kan Islam juga mengajarkan pada umatnya untuk tidak pesimis dan berburuk sangka. 

Oh iya, hadiah yang dijanjikan oleh Kemdikbud saat itu adalah sebesar 12.500.000/buku. Artinya jika kebagian nulis tiga buku, tinggal kali 3 saja. 




PERJANJIAN DENGAN ILUSTRATOR

Sebelum mengirimkan semua persyaratan, semua penulis harus udah deal dengan pihak ilustrator terkait dengan pembagian hadiahnya. Apakah dibagi dua atau ilustrator dibayar per lembar.  Saya sendiri memutuskan jika lolos akan membagi dua saja hadiahnya dengan Ilustrator pilihan saya. Saya berpikir kala itu, kalau saya lolos itu pun mungkin tak lepas dari doa-doa dan rezeki Ilustrator saya juga. Walau pun sebetulnya itu adalah hak penulis mau dibayar per lembar atau bagi dua. Tetapi kebanyakan ya dibayar per lembar sih memang lebih menguntungkan penulis. 

Saya pun meminta sampel gambar yang pernah dibuat oleh Ilustrator dengan perjanjian kalau menang hadiah bagi dua. 


Baca juga : Keseruan Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional Tahun 2019

MEMBUAT OUTLINE LENGKAP

Seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa salah satu syarat ikut saringan penulis adalah mengirimkan outline cerita. Dimulai dari tema, judul, fokus karakter, target pembaca dan sinopsis lengkap. Tema, fokus karakter dan target pembaca sebetulnya sudah ditentukan oleh panitia, kita tinggal pilih sesuai dengan minat dan keinginan kita. Pilihan temanya ada 12, yaitu :

1. Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan
2. Arsitektur Tradisional
3. Aktivitas Ekonomi Kreatif
4. Diversifikasi Pangan dan Tradisi Kuliner
5. Lanskap Perubahan Sosial Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
6. Bahasa dan Sastra Indonesia
7. Toleransi dan Kebhinekaan
8. Kebencanaan


9. Kesenian
10. Kecakapan Hidup
11. Antikorupsi
12. Kemaritiman

Saat itu, saya ambil tema Sanitasi dan Kesehatan LIngkungan karena saya pikir sesuai dengan keilmuan saya. Sayangnya, saya yang masih polos kala itu tak paham kalau bisa mengirimkan outline lebih dari satu. Saya pikir kalau outlinenya untuk dua buku, artinya buku saya yang dikirim pun harus nambah lima lagi dengan judul yang berbeda. Sementara saya hanya baru punya satu buku saja. Saat pertemuan ternyata ada lo yang kirim hingga sepuluh outline! Waah, dari situ saya bersyukur, alhamdulillah saya kirim satu pun bisa lolos. Ada banyak teman yang kebagian menulis tiga buku dan dua buku. Alhamdulillah, satu buku pun saya sangat senang. 

Nah, setelah semua syarat terkumpul, barulah kirim ke alamat yang tertera di panduan. Saya dulu mengirim lumayan berat, karena lima buku saya kan emang tebal-tebal. 

Setelah terkirim, saya harus menunggu berita beberapa MInggu dari Kementrian, apakah saya lolos atau tidak? Dan Alhamdulillah, Lolos teman-teman. Yeaaayy! sujud syukur! Ini merupakan anugerah dan rezeki yang tak terduga. Nama saya ada di urutan kedua dari akhir (karena kan huruf awalnya Y hehe). Saya sujud syukur dan terharu, karena akan bertemu dengan teman-teman penulis buku anak seluruh Indonesia. Penulis baru yang ketiban rezeki luar biasa dari Allah. 

Baca lanjutannya :Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis GLN 2019 

Alhamdulillah, saya dinyatakan lolos untuk bisa mengikuti pertemuan penulis buku anak seluruh Indonesia. 

Ceritanya nanti bersambung ke judul : Mengurus Keberangkatan, Gosip-gosip, dan selama pertemuan penulis