Tampilkan postingan dengan label Gerakan Literasi Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerakan Literasi Nasional. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juni 2021

Euforia Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2021 : Kembali ke Konsep GLN 2019

 


Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang setiap tahun diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 2021 pun sudah muncul sayembaranya. Berbeda dengan tahun lalu (2020) yang lebih menyasar anak SD kelas atas (4-6), tahun ini kembali ke  konsep atau kebutuhan seperti tahun 2019 lalu. Dimana, target pembacanya adalah anak Paud dan SD kelas bawah (1-3). Bedanya, tahun ini SD dibagi dua, karena mungkin mengacu pada penjenjangan buku anak yang kembali mengalami perubahan.

Syarat GLN ini pun agak berbeda dari tahun 2019 lalu. Jika tahun 2019 lalu mensyaratkan adanya buku sebanyak 5 eksemplar sebagai portofolio penulis, tahun ini tidak. Tahun ini lebih ke mengirimkan cerita dalam format yang sudah disediakan, yaitu dalam bentuk papan cerita (storyboard). Dan harus ada satu halaman contoh ilustrasi dari naskah tersebut. Tahun 2019 hanya mengirimkan sinopsis/ konsep dengan contoh ilustrasi 1 halaman (contohnya ini tidak harus berdasarkan naskah). Itu bedanya ya. lainnya hampir sama, hanya saja alhamdulillah tahun ini lebih mudah, karena dikirim lewat email saja. Tahun 2019 harus mengirimkan dalam bentuk cetak juga plus buku sebagai portofolio.

Sama seperti tahun 2019, tahun ini pun saya tetap menggandeng Ilustrator karena tak bisa menggambar/mengilustrasi buku. Saat musim sayembara seperti ini memang ilustrator buku anak sangat diperlukan. Bahkan banyak yang mendapatkan pesanan hingga akhirnya menutup/menolak pesanan lainnya. Makanya diperlukan kesigapan dan ketepatan dalam memilih ilustrator yang cocok buat naskah kita. Tahun ini memang antusiasme penulis baik yang senior maupun yang baru mencoba lebih besar ketimbang tahun 2019. Bahkan tahun ini ada webinarnya, diadakan oleh sebuah komunitas online dengan menggandeng narasumber salah satu pakar yang memang sangat paham perbukuan serta GLN. Semua sangat semangat, dan saya yakin pendaftar tahun ini mengalami kenaikan yang signifikan. 

 

TEMA DAN FOKUS KARAKTER 

Bicara tema, tahun ini jauh lebih sederhana ketimbang tahun 2019. Ada tema yang sama dan ada pula yang baru. Bagi saya tema yang sekarang jauh lebih bisa dipahami dan lebih cocok untuk tema buku anak-anak.

Tema yang disediakan oleh panitia sayembara meliputi : 

1. Keluarga dan Sahabat

2. Satwa dan Tumbuhan

3. Hobi/Kegemaran

4. Kesehatan

5. Kearifan lokal/Tradisi

Selain tema, yang disyaratkan panitia adalah fokus karakter. Hal ini mengacu pada pendidikan karakter yang sedang benar-benar dicanangkan pemerintah. Ada dua puluh lebih fokus karakter yang bisa diambil oleh penulis, yaitu:religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, bertanggungjawab, berpikir kritis dan percaya diri. 

Dari sekian banyak fokus karakter, penulis bisa mengambil maksimal 3 fokus karakter per cerita. Penulis juga boleh mengirimkan lebih dari satu karyanya dan akan dipilih satu per level pembaca sesuai dengan keputusan juri. Oh iya, tahun ini GLN hanya akan menerima 75 naskah cerita anak untuk kategori Prabaca 2 (TK/Paud), Membaca Dini dan Membaca Awal. 

 

HADIAH 

Sama dengan tahun 2019, hadiah tahun ini juga masih sama, yaitu 12.000.000/judul buku (dipotong pajak). Dan bagi yang kerjasama bareng Ilustrator juga akan membagi rezekinya itu nanti setelah cair pastinya. 

Kok murah? 

Ya, hitung-hitung bakti untuk bangsa, kenapa tidak? begitu kata seorang senior di bidang perbukuan. Lagian bisa dijadikan tambahan portofolio nantinya. Bangga kan karyanya nampang di website Kemendikbud. hehehe 


FORMAT JURI BARU DAN PENGUMUMAN PEMENANG.  

Tiba saatnya yang ditentukan untuk pengumuman, lalu diundur seperti biasanya. Saya agak lumayan surprise menerima bocoran soal juri tahun ini. Bukan kaget gimana-gimana, hanya tak menyangka ternyata beda dari yang dulu. hehehe

Saya cukup tahu setidaknya empat dari juri yang dibocorkan itu. Dan, saya tahu mereka adalah orang-orang hebat di bidangnya. 

Dengan wajah-wajah baru yang penuh semangat, saya pikir tahun ini akan menghasilkan buku-buku karya penulis dan ilustrator Indonesia lebih bagus dari tahun 2019. Semoga ya, kita doakan. 

Akhirnya, tiba waktu melihat pengumuman kelulusan, dan alhamdulillah saya tidak termasuk yang lolos untuk hadir ke Jakarta. Dilihat berkali-kali pun, sama hasilnya, nggak ada nama saya (hahaha). Iyalah memang tidak lolos. 

Benar dugaan saya, ternyata memang jumlah pendaftar tahun ini sangat banyak. Meningkat jauh dari tahun 2019. Tahun ini ada sekitar 1421 naskah yang masuk. Wow bukan? Begitu kata teman-teman yang lolos dan sudah buat grup pastinya dengan panitia.

Oh iya, tahun ini meski masih pandemi, sepertinya akan dilaksanakan gathering offlinea atau pertemuan penulis seperti tahun 2019. Beda dengan GLN tahun 2020 yang daring pembekalannya. 

Karena saya tidak lolos artinya saya tidak ada pengalaman untuk melanjutkan cerita dalam acara pertemuan penulis GLN 2021 seperti tahun 2019 lalu. Maka tulisan ini pun seperti hanya cukup sampai di sini. Saya sedikit kecewa pastinya, karena merasa sudah melakukan semua dengan maksimal. Saya pikir sangat wajar ya. Tapi, saya yakin semua ada yang Maha Mengatur. Dan, ini adalah terbaik bagi saya. Agar saya selalu mau belajar lebih baik lagi ke depannya. 

Buat teman-teman yang terpilih/lolos ke Jakarta, selamat sekali lagi. Saya ikut senang, karena semua yang lolos, sebagian besar adalah teman saya juga. Semoga lancar acaranya dan mendapat perlindungan Tuhan, aamiin. Semangat berkarya yang terbaik untuk anak Indonesia.



 




 

 

Kamis, 09 Juli 2020

Proses Kreatif Pembuatan Buku Pemenang Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi 2019 Jawa Timur : Hai Apa Itu dan Iyan Kesatria Jaranan

Tahun 2019 bagi saya adalah tahun yang penuh perjuangan sekaligus mengesankan. Bagaimana tidak, di tahun kemarin perjuangan saya di bidang kepenulisan mengalami peningkatan signifikan. Saya yang memutuskan untuk focus menekuni buku anak, harus mengepush diri agar segera “naik kelas” dan segera mendapatkan hasil. Selain berbagai training kepenulisan online yang saya terus ikuti, saya juga mencoba menembus beberapa penerbit besar. Bagi saya, satu training harus menghasilkan satu naskah yang acc di penerbit mayor. Dan, alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan. Banyak naskah yang acc di tahun lalu, walau pun saat ini tak semua bisa terbit karena pandemi corona.

BELAJAR, PRAKTIK, DAN KIRIM!

Baca juga :

Ya, itu adalah senjata atau rahasia yang saya jalankan di tahun 2019. Belajar ke banyak senior, latihan atau praktik, hasilnya kirim ke penerbit mayor. Entah mengapa, setiap kali mengirin naskah saya merasa kalau naskah itu akan acc, karena unik. Saya memang tidak sembarang juga mengambil tema yang akan ditulis, biasanya saya survey minimal ke toko buku Gramedia atau lihat postingan medsos penerbit. Ketika tema yang saya buat belum ada, saya pun segera eksekusi. Walau pun tetap saja kadang ada yang tema sama dengan orang lain yang lebih dulu masuk naskahnya, maka saya pun harus berlapang dada naskah saya ditolak.

BUKU SOLO TERBIT UNTUK PERTAMA KALI!

Yup, buku solo saya yang benar-benar sendiri (iya lah), terbit di tahun 2019 lalu. Di Penerbit Elex Media Komputindo, akhirnya buku perdana solo itu lahir. Lebih tepatnya yang membidani quanta kids, karena naskahnya islami. Buku tersebut adalah Cerita-cerita Sains Terbaik dari Hadis Nabi. Sejak lahirnya buku itu, saya merasa sudah benar-benar menjadi penulis buku anak hihihi.

Sebelumnya, saya memang memiliki buku hasil duet dengan mbak Nazlah Hasni, yaitu Kisah Hebat Hewan Langka di Dunia (Penerbit Elex Media Komputindo juga). Lalu ada juga buku Ceria Ramadhan jilid 2, hasil dari sayembara menulis di Penerbit Ziyad Visi Media. Saat itu saya lolos tiga naskah, yang masing-masing dihargai 500.000 rupiah. Saya pun bersyukur atas kemenangan itu dengan memberikan satu juta fee-nya kepada ibu saya.

LOLOS SEBAGAI PENULIS GERAKAN LITERASI NASIONAL

Tidak cukup dengan kebahagiaan di atas, Allah pun memberikan rezeki lebih besar kepada saya lewat Sayembara Penulisan Bacaan Anak Literasi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Saya lolos satu judul buku, yaitu Balapan Sampah (tema Kesehatan lingkungan). Bersama Ilustrator, Kang Ramdan, alhamdulillah bukunya sudah terbit sekarang dan bisa dibaca gratis di laman Kemendikbud.

Padahal jika boleh jujur, saya waktu itu sangatlah polos dan tidak paham apa itu GLN. Secara menulis buku saja baru saja belajar. Perlahan, dengan dijalani saya pun banyak belajar. Apalagi tahun lalu ada pertemuan penulisnya di Jakarta. Senang sekali bisa menjadi bagian proyek pemerintah yang luar biasa itu.

Semua hal tentang GLN, dari mulai syarat-syarat ikut GLN, perjalanan, hingga acara di sana, bisa di baca di sini.

PEMENANG DUA KATEGORI GLN JAWA TIMUR

Selain Sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi oleh Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, saya juga Alhamdulillah menjadi pemenang sayembara Penulisan Bahan Bacaan Literasi Jawa Timur untuk dua kategori langsung. Ini sungguh diluar dugaan saya. Saya tak pernah menargetkan apa pun, bahkan serasa mimpi. Mana pemberian hadiahnya di statsiun TVRI Jawa Timur pula, benar-benar terasa luar biasa. Dari dua kemenangan itu, insya Allah uangnya akan saya pakai untuk daftar haji atau umroh bersama suami dan anak-anak, doakan ya agar lancar dan dapat ibadah umroh saat wabah corona telah pergi, aamiin.

PROSES KREATIF BUKU “HAI APA ITU

Buku Hai Apa Itu adalah buku yang diperuntukkan bagi anak Paud (Pra Membaca). Satu halaman terdiri dari 1-3 kata saja dengan gambar full colour. Diilustrasi dengan apik oleh Mas Ferdian Udiyanto, buku Hai Apa Itu sukses membuat lima juri mengacungkan jempolnya. Alhamdulillah.

Ide awal penulisan buku Hai Apa Itu adalah berasal dari makanan. Kok makanan? Iya makanan, khususnya makanan khas Mojokerto, onde-onde! Awalnya mau menuliskan tentang cerita para kue di sebuah took kue, tapi kemudian berubah pikiran. Saya ingin memakai tokoh binatang lucu. Karena menurut saya, anak-anak pada dasarnya suka binatang.

Setelah melalui riset, akhirnya saya tertarik untuk menjadikan tokoh kera Warek, seekor binatang langka khas kota Trenggalek. Bagaimana cara menghubungkan kera warek dengan onde-onde? Akhirnaya saya memutuskan mengambil setting di perbatasan desa antara hutan dan sawah. Di pinggir sawah yang berbatasan dengan hutan, saya mmebuat sebuah gubuk kecil tempat istirahat petani. Di situlah ada sepiring kue onde-onde hangat yang dilihat segereombolan kera warek. Para kera itu sangat penasaran dengan benda bulat itu. Mereka pun saling bertanya-tanya. Apakah mereka berhasil tahu nama dari benda bulat itu? Tunggu bukunya terbit ya hihi.

PROSES KREATIF BUKU “IYAN KESATRIA JARANAN”

Selain buku Hai Apa Itu, saya pun lolos di kategori Membaca Awal, yaitu buku untuk anak SD kelas satu sampai tiga. Saya memngambil ide pemain jaranan di Kediri. Terinspirasi dari kisah nyata sih, di mana dulu saat saya di kediri, sering menyaksikan pertunjukkan jaranan. Bahkan seorang anak tetangga saya jadi pemainnya.

Jaranan adalah kesenian khas dari Kota Kediri dan Tulungagung. Kesenian itu masih terjaga dan disukai anak-anak. Oleh karena itu, saya pun berusaha menampilkan tokoh Iyan yang adalah seorang pemain jaranan. Diceritakan, Iyan adalah anak dari seorang penari jaranan juga. Bersama teman-temannya dia membentuk grup tari jaranan cilik. Saat ada lomba jaranan cilik di Kediri, grup Iyan diminta ayahnya untuk ikut. Tapi Iyan merasa belum percaya diri. Apakah Iyan jadi ikut lomba atau tidak? Apakah mereka berhasil? Tunggu bukunya terbit dan pasti akan direlease secara gratis.

Nah itulah proses kreatif dari dua buku yang menjadi juara di GLN Jawa Timur tahun lalu. Semoga memberi manfaat bagi yang membutuhkan. Intinya, carilah tema yang unik dan disukai anak-anak. Sesuaikan juga dengan usia target pembaca.

 

Rabu, 22 Januari 2020

5 Tips Jitu Agar Lolos dalam Seleksi Penulis Gerakan Literasi Nasional (GLN)



Apa sih Gerakan Literasi Nasional (GLN)? Jika kalian penulis,  terutama penulis buku anak pasti tahu apa itu GLN. Karena setiap tahun sejak tahun 2017, pemerintah khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan event ini dengan tujuan pengadaan buku-buku berkualitas untuk anak-anak Indonesia dari jenjang Paud hingga SMA. 

Sebagaimana kita ketahui bersama, sejak tahun 2016 pemerintah mulai menggencarkan program Gerakan Literasi Nasional. Apalagi sejak adanya sebuah survey yang menyatakan bahwa negara Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari puluhan negara dengan minat baca paling rendah. 

Cara Penjaringan Penulis

Biasanya, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Jakarta, akan terlebih dahulu menjaring calon penulis untuk menuliskan buku bagi anak-anak Indonesia. Setelah itu, barulah bermunculan lomba-lomba GLN di daerah (provinsi). Pengumuman penerimaan calon penulis biasanya dilakukan lewat media sosial dan website. 

Seleksi calon penulis di Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan pada awalnya (tahun 2017-2018) semua peserta mengirimkan karya/buku (buku dummy) untuk dinilai. Setelah dinilai, barulah diadakan pertemuan penulis bagi yang lolos. Tetapi pada tahun 2019 kemarin berbeda. Tahun lalu di mana saya adalah salah satu yang lolos, penulis hanya mengirimkan sinopsis lengkap dan 5 eks buku yang pernah diterbitkan. 

Sementara itu, di tingkat provinsi masih memakai metode yang sebelumnya, yaitu penulis diwajibkan mengirimkan karya sudah jadi dalam bentuk dummy. Untuk tahun ini, kita tunggu saja pengumumannya ya. 

Nah, banyak yang bertanya pada saya bagaimana agar lolos GLN? Saya pun berupaya merangkumnya versi saya tentunya ya. Jadi kalau beda, ya boleh-boleh saja. 

1. Bergaullah dengan penulis senior

Ini serius, terutama bagi penulis pemula yang ingin ikut daftar. Mengingat para senior inilah yang biasanya memiliki informasi terlebih dahulu jika sudah ada pengumuman. Jika kalian sudah kenal juga bisa bertanya yang tidak dipahami. Karena banyak kok senior yang baik alias mau menjawab pertanyaan junior sepanjang pertanyaannya nggak aneh ya. Ini pengalaman saya, di mana sebelumnya nggak pernah tahu apa itu GLN? Karena bergaul dengan penulis senior (berteman di medsos), akhirnya tahu dan mulailah mencoba daftar hingga lolos. 

2. Baca dengan Teliti Pengumumannya dan Taati

Setelah ada pengumuman, kalian bisa membaca dan menelitinya dengan seksama. Baca dan teliti kalau perlu tulis yang bagian pentingnya, agar tidak lupa. 

Apa saja yang harus diperhatikan? Tentu saja persyaratan, ketentuan dan yang penting deadline. Jangan lupa juga alamat pengiriman buku maupun alamat email untuk pengiriman karya kita (soft file). 

Dalam perjalanan pembuatan karyanya. kalian harus benar-benar mengikuti teknis atau aturan mainnya. JIka misalnya mengharuskan memakai jenis huruf sans serif atau huruf lainnya, ya harus pakai itu. Intinya taati semua aturan mainnya. 

3. Segera Bertindak 

Jika seleksinya meminta dalam bentuk karya, maka segeralah atur strategi pembuatan karya sesuai dengan kriteria dan persyaratannya. Jangan menunda. Segera cari ilustrator yang mau diajak  bekerjasama. Buatlah naskah sesuai syarat dan kriteria, jika meminta harus bermuatan lokal ya segera lakukan survey kecil-kecilan. Tetapkan mau ambil mulok apa dan masukkan dalam cerita anak. 

Jika panitia hanya meminta sinopsis, ya tinggal kirim sinopsis lengkap dari awal cerita hingga akhir. Ikuti semua syarat dan ketentuannya. 

4. Perhitungkan Waktu Pengerjaan hingga Deadline

Karena menulis cerita anak butuh banyak waktu, terutama soal ilustrasinya, makanya harus benar-benar diperhitungkan agar tidak melebihi deadline yang telah ditetapkan. Silakan berkonsultasi dengan calon ilustratornya. Kadang ada ilustartor yang full pekerjaan, tapi tetap bersedia mengerjakan, penulis kudu pastikan DL-nya beberapa hari sebelum deadline lomba. Karena kan kita juga butuh waktu untuk mencetak, menjilid dan mengirimkannya. Mending kalau digital printnya banyak di kota kalian, lah kalau cuma satu, kan antrinya minta ampun. 


5. Teliti lagi sebelum kirim 

Ketika karya sudah siap kirim sesuai ketentuan, jangan lupa untuk mericek kembali syaratnya. Siapa tahu ada file yang tertinggal dan belum dimasukkan ke dalam persyaratan. 


Nah, itu dia tips agar lolos dalam seleksi Penulis Gerakan literasi Nasional (GLN) versi saya. Semoga ada manfaatnya ya. 

Ingat, tugas kita hanya berusaha semaksimal mungkin, lolos alhamdulillah. Tidak juga tetap legowo, jadikan pengalaman untuk lolos di tahun berikutnya. Semoga berhasil!



Senin, 30 Desember 2019

Bagaimana Sih Keseruan Pertemuan Penulis GLN Tahun 2019? Ayo Baca Kisahnya : Seru dan Padat Ilmu!



Oke, setelah saya menuliskan syarat-syarat mengikuti GLN 2019, lalu saya dinyatakan lolos dan persiapan yang tidak mudah untuk menuju ke Jakarta, kini saatnya saya menuliskan tentang kegiatan selama di Jakarta sana. 

Ngapain saja sih kami? Apa sempat jalan-jalan?

Heboh pastinya. Secara hampir 100 orang penulis buku anak tumplek di sana. Mereka berasal dari seluruh penjuru nusantara. Dan saya pun sangat bangga bisa berada di antaranya. Ibarat kata anak bau kencur, ikutan reuni akbar penulis. hihi.. Sungguh anugerah Allah yang Maha Baik.

Pertama datang disambut Mas Sanjaya dan teman-teman panitia lainnya. Semua peserta registrasi sekaligus menyetorkan kwitansi transportasi selama perjalanan PP, lalu kami dibagikan name tag dan buku panduan kegiatan. Setelah itu, kami dipersilakan makan siang dan masuk kamar hotel. Waah... saya dalam keadaan lapar berangkat nyubuh dari Tasikmalaya, disediakan makanan yang banyak, saya terus terang kalap, Mak. Sampai isin dilihat Kang Ali wahahaha... 


Buku Panduan dan Name Tag

Setelah makan, alhamdulillah kami diberikan waktu istirahat saling mengenal teman sekamar masing-masing. Saya mencari nomor kamar, dan ternyata kuncinya sudah diambil Bu Anna yang sekamar dengan saya. Saya telepon beliau tapi nggak diangkat, lalu sayapun telepon ke telepon kamar, alhamdulillah dia sudah ada di kamar! Kami mendaapt kamar di lantai 8 (beruntung tidak di lantai 12. Emang kenapa? Ada deh haha). Akhirnya bertemu Bu Anna yang baik dan tidak sombong. Beliau ternyata seorang pakar pendidikan sekaligus konselor Paud. Kesan pertama lihat, Bu Anna adalah orang yang tegas dan jaim, tapi ternyata tidak sama sekali. Kami malah sering ketawa-tawa, baik di kelas maupun di kamar, tak peduli apa pun masalahnya, yang penting heppy we ceunah haha. 




Bersama my Roomate, Bu Anna

Wefie kita hihihi 

Hari Pertama Ngapain saja? (Rabu, 24 April 2019)

Hari pertama pembukaan dimulai pukul 15.30. Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Sangat hikmat, secara kami semua dianjurkan memakai batik. Semarak corak batik yang keren dari seluruh pelosok nusantara berpadu dengan kehidmatan lagu Indonesia Raya. Sangat mengharukan bagi saya berdiri di sana. Acara dilanjut dengan doa dan laporan panitia. Selanjutnya adalah  sambutan oleh Bapak Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Prof Dr. Dadang Suhendar, M.Hum. Beliau memberikan paparan dan pandangan tentang literasi saat ini dan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah termasuk adanya pertemuan penulis bahan bacaan literasi baca-tulis 2019 itu. Beliau pun membunyikan gong pertanda pertemuan penulis dimulai! Yeaaayy!

Ada satu acara yang cukup mencuri perhatian kami, yaitu pemberian piagam penghargaan kepada seluruh penulis yang diawakili Kang Ali Muakhir. Serasa udah sah menjadi penulis, Mak! :)

Acara semakin ramai dengan adanya penampilan opera anak-anak yang bertemakan literasi tentunya. Tarian, nyanyian, drama berpadu dengan penampilan alami mereka nan Imut dan menggemaskan! Seruuu dan menghibur! Kalian anak-anak yang hebat!

Nah, acara hari pertama berakhir dengan sesi foto bersama. Seru dan meriweh pokoknya. Selfi dimana-mana, beruntung memiliki teman sekamar yang juga hobi berfoto, jadi kita bisa foto-foto sampai puas. 


Bersama sebagian penulis dan Pak BT

Pukul 18.00-19.00 adalah wkatu kami mandi, solat dan makan malam. Malamnya, kami harus masuk kelas lagi, belajar lagi materi "Strategi Pembuatan Bahan Bacaan Literasi Baca-Tulis untuk Pembaca Dini dan Pra Membaca" dengan narasumber Dr. Hurip Danu Ismadi, M.PD. Acara hari pertama selesai pukul 21.00. 

Hari Kedua Ada Apa? (Kamis 25 April 2019)

Hari kedua dimulai pukul 08.00 dengan materi "Ilustrasi sebaga Strategi Penguatan Cerita Anak." dengan Narasumber Bapak Sigit Priyasmono, seorang yang memang ahli di bidang ilustrasi. Materi yang didapat sangat banyak dan daging semua. Terutama soal pembuatan ilustrasi. Sebetulnya ini cocok banget sebagai materi bagi para Ilustrator, tetapi bagi saya yang sering kerjasama bareng ilustrator pun sangat bermanfaat. Acara berlangsung sampai pukul 10.00.


Foto kesekian kalinya hihi

Setelah 15 menit istirahat atau coffee Break, acara dilanjut dengan materi "Penjenjangan Buku Cerita Anak" oleh Mbak Sofie Dewayani, seorang penulis, trainer dan salah satu founder litara Foundation (kalau tidak salah). Bu Sofie mengupas tuntas tentang penjenjangan buku anak dan berbagai informasi keren lainnya. Acara berlangsung hingga pukul 12.15. 

Lalu kami istirahat hingga pukul 13.00 dan dilanjut oleh materi Pak Bambang Trimansyah, seorang yang tak asing lagi di kalangan penulis buku anak. Pak Bambang mengupas tuntas soal "Proses Kreatif Penulisan Cerita Anak". Banyak ilmu dan pengalaman yang dipaparkan beliau. Saya sebagai pemula sangat beruntung bisa mendengar materi Pak BT yang keren. Yang paling ingat dari materi Pak BT adalah soal awalan cerita dan tema buku anak yang sudah old, semacam tema liburan ke rumah nenek itu hihi... 

Pukul 15.00-15.30 kami istirahat dan solat, acara pun dimulai lagi dengan materi Bu Dewi Utama Fauziah dengan mengupas tuntas soal Kearipan Lokal dalam Cerita Anak. Dari beliau saya banyak tahu soal sejarah buku di Jepang, jenis buku-buku anak Jepang dan banyak hal deh yang kesemuanya membuat saya semakin kaya ilmu. Keren bu Dewi ini sering jalan-jalan ke luar negeri dengan khusus mengamati literasi bangsa yang dikunjunginya. Akutu pengen kayak gitu, Mak!

Jam 17.30-19.00 istirahat, mandi, solat dan makan malam. Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) menghangatkan suasana malam Jumat kami dengan materi Proses Kreatif Penulis untuk Membangun Penguatan Karakter dala, Cerita. Kang Abik begitu memesona memaparkan pembuatan karakter agar disukai pembaca. Acara diakhiri dengan foto bersama bareng sang maestro dalam dunia kepenulisan. Tentu saja ada banyak permintaan peserta kepada Kang Abik terutama soal foto (maklum beliau kan selebritis juga ya) hehe...



Kang Abik yang begitu berkharisma


Hari Ketiga Ngapain? (Jumat, 26 April 2019)

Hari Jumat ternyata sudah dibuatkan pengelompokkan kelas yang masing-masing dibimbing oleh para narsum kemarin. Seluruh penulis dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok A dibimbing Pak Bambang Trim, Kelompok B oleh Bu Dewi Fauziah, kelompok C oleh Bu Sofie Dewayani dan kelompok D oleh Pak Sigit Priyasmono. Saya berada di kelompok D bersama Mbak Watiek Ideo, Mbak Dwi Rahmawati, Mas Redy, Mbak Widya Ros, Mbak Baby Haryani D, Mbak Tria Ayu, Teh Ina Inong, dan banyak yang lainnya sekitar 23 orang.  

Seharian kami diharuskan mempresentasikan buku apa yang akan dibuat dan ilustrasinya sebanyak 30 %. Semua tampak tegang! Hihihi... walau pun sudah dipersiapkan dari semalam bahkan sebelum berangkat ke jakarta, kalau harus presentasi kan lain lagi ceritanya. Urutan presentasinya dengan cara diundi pula! dan makin tegang deh kami haha... terutama saya deh.


Kita para punggawa kelompok D 

Tapi alhamdulillah sebelum pukul 19.00 malam, saya sudah maju presentasi dan mendapat masukan (lega). Tapi ada banyak penulis yang belum kebagian presentasi, alhasil dilanjut malam. Padahal, malam itu ada materi Bu Murti Bunanta dengan tema "Membuat Cerita Anak Mendunia!" . Penulis yang belum persentasi terpaksa tidak mengikuti sesi bu Murti ini. Dan, saya pun hanya bisa sampai jam 20.00 saja, karena ada telepon dari kakak saya, bahwasannya anak saya sakit di Tasik. Wah, kebayang kan rasanya? kaget iya, bingung iya, sedih iya. Alhasil dengan berurai air mata saya menemui panitia. Saya bilang mau izin pulang malam itu juga. 




Saat paling mendebarkan hihi

Perjalanan Pulang

Karena alasan anak sakit dan tidak mau berhenti menangis (kuyakin karena merindukan ibunya anak saya ini), saya pun diantar pulang oleh Mas Sanjaya yang baik hati. Mencari bus yang ke Tasikmalaya sekitar pukul 21.30 malam karena saya kan harus menyelesaikan urusan adiministrasi dulu. Alhamdulillah setelah berkendara motor dibonceng Mas Sanjaya, kami berhasil menembus kemacetan Jakarta. Saya pun menemukan bus terakhir menuju Tasik. Capek sangat, secara rencananya mau pulang naik pesawat dengan Kang Iwok besok paginya, tiketnya hangus deh hihihi..



Alhamdulillah....Allah Maha Baik 

Ya begitulah, emak-emak. Rempong, namun mengasyikan! Alhamdulillah semuanya membawa berkah buat saya. Ilmu yang banyak, silaturahmi, mengenal banyak hal, menemukan sosok yang sangat perhatian dan tentu saja diri saya yang memang berharga, setidaknya untuk putri saya. Capek tapi menyenangkan hingga tak terasa capeknya. Perjalanan panjang dari Mojokerto-Tasikmalaya-Jakarta PP dengan seorang asisten cilik yang merindukan emaknya. Momentum GLN 2019 ini sangat berpengaruh bagi saya, terutama dalam membuat keputusan untuk fokus menulis cerita anak dengan lebih percaya diri. 

Senang deh menjadi bagian GLN 2019, semoga buku yang saya buat berkolaborasi dengan Kang Ramdan bermanfaat untuk anak bangsa di seluruh nusantara. Doakan saya tahun depan juga menjadi salah satu penulis GLN 2020 ya, aamiin. 


Salah satu ilustrasi keceh di dalam buku Balapan Sampah karya saya.
Dibuat oleh Kang Ramdan (Endan Ramdan)

Itulah sekelumit curhatan saya tentang Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi Baca Tulis 2019 di Hotel Kartika Chandra Jakarta. Teman-teman saya ada yang sempat jalan juga ke Perpustakaan nasional di hari Sabtunya. Kalau saya sudah di Tasik dan memeluk si bungsu yang begitu bahagia melihat ibunya pulang.