Tampilkan postingan dengan label Penerbit buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbit buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Januari 2020

9 Penerbit Buku Ini Siap Menerbitkan Komikmu. Kuy Kirim!



Hai, teman-teman. Selamat siaaangg ...! Selamat makan siang sambil membaca postingan keren saya ini. 

Jika kamu penyuka komik dan suka nulis komik, sangat harus baca postingan saya ini. Karena postingan ini berisi informasi bermanfaat untuk kamu dan bisa juga bermanfaat untuk saudara, sohib, calon mertua, atau bahkan mantan kamu.

Kamu suka nulis komik nggak? Kalau iya, jangan cuma ditulis doang, ayo coba kirim ke penerbit agar dibaca orang lain dan komikmu bermanfaat bagi orang lain juga. Keuntungannya kamu pun bisa mendapatkan penghasilan. Apalagi jika komik kamu cetak ulang lagi, dan lagi. Wiih, sudah pasti menggiurkan bukan? 

Komik saat ini memang tak bisa dipungkiri sangat diminati baik oleh anak-anak, remaja, maupun dewasa. Hal itu tentu saja tak lepas karena gambarnya banyak dan dialog yang kerap kali lucu. Bahkan tak jarang anak-anak lebih mudah menyelesaikan baca komik, daripada baca buku yang teksnya banyak. Bahkan nih ya, pemerintah pun mulai melirik dunia komik sebagai buku pendamping pembelajaran sekolah lo. 

Belakangan ini juga tak sedikit penulis yang mulai melirik skrip komik. Memang membuat komik tak perlu harus bisa menggambar atau mengilustrasi, karena ada ilustrator atau komikus yang bisa diajak kerjasama. Nah, jika kalian sudah punya naskah skrip komik, atau bahkan komik yang udah komplit dengan gambarnya, kalian jangan bingung mencari penerbit. Karena saya membawa berita gembira tentang 9 penerbit yang menerima naskah komik kamu. Siapa tahu salah satunya cocok dengan nsakah kamu. Kuy simak deh. 

1. Pustaka Al-Kautsar

Penerbit pertama yang menerima naskah komik adalah Pustaka Al-Kautsar. Penerbit ini menerbitkan naskah komik islami. Tahu kan komik seri AL-Fatih yang terkenal itu? Penerbitnya ya imprint Pustakan Al-Kautsar ini. Oh iya, penerbit ini menerima naskah komik anak, remaja hingga dewasa lo. Baik fiksi maupun nonfiksi.

2. Penerbi Zahira

Penerbit ini aku baca dari buku  komiknya yang terkenal yaitu "Pengen Jadi Baik" yang sudah diterbitkan hingga seri ke berapa ya itu? Lima ada kali ya, saking larisnya. Cek sendiri ya di medsos : Penerbit Zahira. Nah, kamu bisa coba juga kirimkan karya komik kamu terutama yang islami.

3. BIP

Penerbi BIP memiliki banyak koleksi komiknya, dari mulai komik anak hingga young adult sepertinya. Kalian bisa mengirimkan karya komik kalian ke penerbit ini, baik islami maupun umum. Kalau Islami akan terbit di Qibla (lini Islami), kalau umum ya di BIP-nya. Oh iya, BIP juga memiliki koleksi komik terjemahan yang lucu-lucu (anak saya suka). Juga komik yang mengusung tema remaja : Teen Comic  (Kalau ini emaknya yang suka haha). Silakan kepoin Fp-nya : Bhuana Ilmu Populer
4. Gema Insani

Penerbit satu ini juga menerbitkan komik-komik islami. Jika kalian memiliki naskah komik islami boleh kirim ke penerbit ini. Lihat koleksi komik terbitannya bisa membuat kalian tahu lebih dalam  karakteristik naskah kebutuhan penerbit.

5. Muffin Graphics

Ada yang tahu komik anak Next G? Ini dia penerbitnya, Muffin Grafhics yang merupakan imprint penerbit Mizan. Untuk mengirimkan naskah ke penerbit ini sebaiknya beli dulu komik Next G, karena ada ketentuan yang berhubungan dengan buku komik yang sudah diterbitkan, terutama bagi yang mau membuat komik serial Next G. Kepoin dulu Fp : Muffin Graphics

6. GPU

Saya menyebut penerbit besar ini bisa menerima naskah komik, karena baca buku komik terbitannya. Ada beberapa komik baik terjemahan maupun asli Indonesia pernah saya baca terbitan penerbit ini. So, kalian bisa juga coba kirimkan karyanya.

7. Dar! Mizan

Dar! Mizan menerima naskah komik islami. Beberapa karya teman-teman penulis sudah terbit di penerbit ini. Cari tahu email penerbitnya dan segera kirimkan karyanya ya. Siapa tahu diterima dan diterbitkan.

8. Funtastic MNC

Funtastic MNC juga menerima naskah komik baik tema umum maupun islami. Kalau ingin tahu terbitan penerbit ini lihat saja di akun medsosnya atau di toko buku. Biar jelas sekalian aja beli bukunya hehe. Bisa juga beli atau lihat di toko buku online.

9. Elex Media Komputindo

Elex media komputindo identik dengan komik scinece Why dan si Juki. Tapi, ternyata komik science Elex ada lo yang penulisnya asli Indonesia. So, kenapa kamu juga tidak coba? Kepoin saja akun instagramnya : Elex Kidz atau Elex Media Komputindo

Lalu setelah mengetahui penerbit bidikan kalian, langkah selanjutnya buatlah naskah komik ala kamu, biar original jangan niru punya orang ya. Cara membuat naskahnya bisa belajar dari buku komik yang sedang ada di pasaran seperti saya, pada awalnya saya belajar dari banyak buku komik. Lalu kalian bisa ikut training/workshop membuat naskah/skrip komik baik online maupun offline. Kuncinya sih praktik! Iya praktik. Tak ada gunanya ikut training ini itu, kalau tidak praktik! Eman-eman duitnya,ya kan?

Komik saya alhamdulillah ada yang sudag acc di salah satu penerbit besar di atas, dan bahkan mintanya komik serial. Doakan saya lancar mengerjakannya ya, karena dulu pengajuannya hanya dua bab saja sebagai contohnya.

Oke, itu saja secuil info dari saya. Bukan berarti yang terima komik hanya 9 penerbit itu saja ya, tapi lebih banyak pastinya. Cari tahu sendiri dan kalau sudah tahu kasih tahu saya juga boleh hehe. Walau tak banyak, tapi semoga tetap memberikan manfaat bagi teman-teman semua. Bermanfaat kan? Jawab iya saja dong. Terima kasih banyak ya. Ayo semangat menulis hingga menghasilkan karya terbaik!

Salam sayang,

Yeti Nurmayati di Mojokerto.


Minggu, 12 Januari 2020

Bingung Pilih Penerbit Indie atau Mayor? Berikut 5 Perbedaannya Agar Kamu Semakin Mantap!



Halo, selamat pagi...!


Dari kota Mojokerto saya mau menuliskan perbedaan Penerbit indie dan mayor yang sering menjadi kebingungan sendiri bagi penulis pemula. 

Tak sedikit teman-teman penulis pemula yang menanyakan kepada saya, apa sih perbedaan penerbit indie dan penerbit mayor? 
Tak usah bingung ya, yang penting kalian udah punya naskah mau di kirim ke penerbit indie maupun mayor, boleh. Hanya saja, untuk penerbit mayor ada ketentuan khusus tiap penerbit, jadi kalian harus kepoin dulu tuh penerbitnya. Bukan harus datang ke alamat penerbitnya, lihat-lihat saja akun sosmednya. Beres, kan? 

Baca juga : 9 Penerbit Ini Siap Terbitkan Komikmu



Nah, agar kalian pilihan kalian makin mantap, saya akan jelaskan lima perbedaan penerbit Indie dan penerbit mayor versi saya tentunya : 

1. Jumlah Cetak Buku

Penerbit Mayor biasanya mencetak minimal 2000 eksempler buku dan didistribusikan ke seluruh toko buku Gramedia atau toga mas atau toko buku lainnya seluruh Indonesia. 

Penerbit Indie bisa cetak sesuai dengan permintaan atau POD = Print On Demand. Mau cetak sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, terserah kalian. Untuk penerbit indie ini bukunya tidak disitribusikan ke toko buku seluruh Indonesia. Jadi, kalian harus aktif berjualan karya kalian sendiri. Saran saya, bagi yang mau ambil penerbit Indie ini harus memiliki kecakapan menjuall bukunya, agar mendapat keuntungan yang maksimal. 

2. Pemilihan Naskah

Penerbit mayor akan menyeleksi naskah kalian dengan ketat. Ada banyak penulis senior maupun junior yang mengirimkan naskahnya ke penerbit mayor yang artinya saingan kalian sangatlah banyak. Oleh karena itu, naskah kalian haruslah dipersiapkan semaksimal mungkin, memiliki tema yang menarik dan kalau bisa beda dari yang lain. Jangan lupa perhatikan kerapian tulisan dan PUEBI-nya. Editor sangat menyukai penulis yang menulis naskahnya dengan rapi. 
Di Penerbit mayor ini, tidak semua naskah diterima. Terkadang naskah kamu harus mengalami penolakan, karena berbagai alasan tentunya. Saat itu, kalian jangan bersedih. Kalian bisa mencobanya ke penerbit yang lain. Terus saja seperti itu sambil naskahnya diperbaiki lagi. 

Penerbit Indie, tanpa adanya proses seleksi. Semua naskah yang masuk pasti akan diterbitkan. Tetapi ingat, kalian harus mencari penerbit indie yang eksistensi dan kredibilitasnya tak diragukan lagi. Untuk mengetahui hal ini, kalian harus bertanya kepada penulis senior yang pengalaman. Atau, cari tahu akun medsos penerbitnya lalu baca-baca track recordnya. Dari postingannya, dari terbitannya hingga orang-orang dibaliknya. Minimal google search nama penerbit, sukur-sukur terdaftar di IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), kalau pun tidak terdaftar juga tetap legal (yang penting bukunya ada ISBN-nya), hanya kalian perlu hati-hati saja. Semuanya harus jelas di awal, jangan sampai merasa tertipu di kemudian hari. Oh iya, untuk menerbitkan di penerbit indie harus bayar ya, biasanya ada paketannya. Pelajari dengan seksama. 



3. Lamanya Waktu Penerbitan Buku

Penerbit mayor biasanya membutuhkan waktu minimal 3 bulan untuk melakukan proses review naskahmu. Ada juga yang sudah ada kabar 2 bulan atau bahkan 6 bulan, tapi rata-rata 3 bulan itu. Jadi kalian harus bersabar menunggu, dan daripada bengong, lebih baik nulis lagi tema baru. 

Penerbit indie tentu saja lebih cepat. Nggak sampai sebulan kadang buku sudah bisa terbit. Saya menyarankan untuk yang memilih penerbit indie agar kerjasama dengan teman-teman yang ahli di bidangnya. Misalnya : kerjasama dengan editor freelance yang mumpuni, karena biasanya penerbit indie tak memiliki editor yang bertugas memeriksa konten secara mendalam, mereka hanya memiliki Proofreader saja (memeriksa teknik penulisan saja). Walau pun tak semua begitu ya. Tujuannya ya untuk menghasilkan karya yang terbaik. 

4. Royalti 

Penerbit Mayor biasanya hanya memberikan royalti maksimal 10% dari harga jual kepada penulisnya. Kecil ya, iya betul. Karena mereka juga membutuhkan biaya cetak yang tak sedikit (modal). Untuk mencetak 2000 eks kan pastiya butuh modal gede ya. 

Penerbit Indie memberikan royalti bisa sampai 100% bagi penulisnya. Kalian harus memastikan ini di awal ya. Karena tak semua penerbit indie memberikan 100 %, tapi sebenarnya kalian bisa mendapatkannya sebesar itu. Silakan dikomunikasikan dengan baik. 

5. Biaya cetak

Penerbit mayor jelas biaya cetaknya lebih mahal, karena mencetak banyak sekaligus. Walau begitu, penulisnya tidak bayar sepeser pun. Karena naskahnya kan sudah pilihan penerbit

Penerbit indie biaya cetaknya ya lebih murah, tapi dibayar sama penulisnya semua. Biasanya ada paketannya tuh. 
Oh iya, untuk proses pengajuan ISBN itu gratis ya, kecuali untuk 2 buku terbit yang harus dikirimkan ke PERPUSNAS, penulis sendiri biasanya yang tanggung. 

Nah, sudah jelas kan perbedaan penerbit Indie dan penerbit mayor? Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang jelas, mau nerbitkan dimana pun tetap harus hati-hati dan mengenal penerbitnya dengan baik. Selamat mengirimkasn naskah, semoga bukunya laris manis dan berkah bagi penulisnya. Aamiin. 

Minggu, 10 November 2019

Punya Naskah Anak, Tapi Bingung Kirim Kemana? Berikut Sebelas Alamat Email Penerbit Anak yang Bisa Kamu Coba



"Mbak, aku punya naskah anak ini. Tapi bingung mau kirim kemana ya? Aku nggak tahu alamat emailnya!" kata seorang teman penulis di Wa atau Messengger. 

Biasanya saya akan memberikan alamat email redaksinya, atau disuruh cari tahu sendiri dengan tanya admin medsos penerbit. Iya saya juga dulu cari tahu satu per satu lewat inbox atau DM Penerbit tersebut. Nah, mulai sekarang agar teman-teman lebih mudah, tidak perlu repot-repot nyari alamat email penerbit, saya kasih tahu saja deh. Tidak perlu berterima kasih, apalagi kirim makanan segala, doakan saja saya ya (ini mah mengharap balasan banget ya? Hahaha) Nggak kok, becanda.

Baiklah, dari banyaknya penerbit mayor yang menerima naskah anak di Indonesia, saya akan menuliskan alamat emailnya beberapa saja. Artinya yang pernah saya kirimin. Tetapi ingat, sebelum mengirimkan naskah ke penerbit, kamu harus cari tahu dulu tentang penerbit tersebut. Apakah menerima naskah seseuai dengan tema yang kamu ambil atau tidak? Agar sesuai dan kemungkinan diterimanya gede. 

Baca juga : Keseruan Pertemuan Penulis Gerakan Literasi Nasional Tahun 2019



Dari mana cari tahunya? Ya dari buku terbitannya. Kamu harus aktif melakukan survey kecil-kecilan ke toko buku atau lewat online (lihat-lihat aku penerbit di media sosial). Jika sudah cocok, barulah kamu kirim. Jangan lupa juga, pastikan naskahnya udah rapi, agar Editor terpukau pada pandangan pertama eeaaa hehe... 

Berikut sebelas alamat email Penerbit anak yang harus coba kamu kirimin naskah. 

1. Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Alamat emailnya : redaksi.bip.gramedia@gmail.com 

2. Elex Kids

Untuk Elex Kids alamat email redaksinya : elex.kids17@gmail.com 
Bisa juga langsung ke editornya : dewa@elexmedia.id

3. Quanta Kids 

Naskahmu bisa dikirim ke Editor langsung yaitu dengan email : jarwati@elexmedia.id

4. Penerbit Duta

Alamat email : nonteks.penerbitduta@gmail.com 

5. Penerbit Keira 

Alamat emailnya : Keirakidss@gmail.com 

6. Penerbit Cheklist

Alamat emailnya : checklist.media@gmail.com 

7. Tiga Ananda 

Alamat emailnya : tspm@tigaserangkai.co.id 
Jangan lupa subjeknya harus jelas untuk Tiga Ananda 

8. Penerbit Kanak 

Alamat emailnya : kanak@bumiaksara.com 

9. Al Kautsar 

Alamat emailnya : redaksi@kautsar.co.id  

10. Noura Books 



Alamat emailnya : redaksi@noura.mizan.com 

11. Visi Mandiri 

Alamat emailnya : Visimandiripublishing@gmail.com 

Itulah sebelas alamat email penerbit anak yang bisa kamu coba kirimin naskah. Tentu saja ada banyak penerbit lainnya yang bisa juga kamu cari dan kirimin naskah. Jangan lupa pelajari dulu kebutuhan penerbit, yah (maksa). Jika memang diterima, alhamdulillah. Jika tidak, jangan menyerah. Karena hidup itu indah. Jangan dibuat gundah. Sudah ah. Dadah! 

Jumat, 20 September 2019

7 Kendala Penulis Pemula Saat Berjuang Menembus Penerbit Mayor




Hai hai, selamat malam. 

Tulisan ini sih sebetulnya hanya pengalaman saya saja saat berjuang menaklukan si Dia (eh maksudnya penerbit). Jadi tidak bisa digeneralisasikan untuk semua orang ya. Ada penulis yang lebih mudah jalannya mungkin, ada juga yang bahkan lebih sulit dari cerita saya ini. Dan, pengalaman saya ini lebih fokus mengirimkan naskah untuk buku anak ya. Karena buku nonfiksi dewasa atau pun novel mungkin prosesnya beda. 

Baca juga : 30 Penerbit Mayor yang Menerima Naskah Anak


Kenapa sih harus penerbit mayor?

Bagi saya, mengajukan naskah ke penerbit mayor adalah tantangan. Sebuah tantangan yang harus saya taklukan. Penerbit mayor pasti memiliki standar naskah yang menurut mereka bagus. Mereka juga tak sembarangan menerima naskah yang masuk, artinya saya harus berkompetisi dengan penulis seluruh Indonesia. Karena itu, saya kudu bisa memenuhi standar itu. Saya kudu bisa membuat naskah yang unik, yang bisa membuat penerbit tertarik. Itulah muara akhir dari pembelajaran menulis saya selama ini. Artinya, jika di penerbit mayor tulisan saya sudah oke, berarti tulisan saya sudah mulai berkembang. 

Tetapi bukan berarti menerbitkan di penerbit indie tidak bagus, tetap bagus. Hanya saja kurang ada tantangannya menurut saya. 

Menerbitkan buku ternyata tidak mudah dan murah lo. Apalagi naskah cerita anak yang memerlukan waktu lebih lama, karena harus digambar dulu /ilustrasi. Di penerbit mayor, biasanya mereka mencetak buku sekitar 1500-2000 eksempler sekali cetak. Cetak banyak pastinya membutuhkan banyak biaya dong. Makanya mereka harus yakin dulu dengan naskah yang akan diterbitkan. Biasanya mereka melakukan survey pasar dan melihat peluang. Pokoknya pertimbangannnya kudu banyak, karena kan biayanya tidak murah. 

Mengirimkan naskah juga memerlukan kesabaran tingkat tinggi lo. Ada saja yang membuat kita kesal, sedih dan down. Nah, saya akan berbagi pengalaman khususnya yang Sangat Indah (Baca : kurang menyenangkan) saat mengirimkan naskah kepada penerbit nasional tentunya. Karena seorang penulis baik akan siap menerima pujian dan kesenangan, juga harus siap dengan segala kegagalan atau kedukaannya. Kuy ah cekidot!


1. Kirim naskah, No respon 

Ini pengalaman yang paling getir sih menurut saya. Karena bagi saya lebih baik ditolak dengan tegas, daripada tidak dibalas sama sekali. Yah tapi mungkin kembali lagi ke kesibukan pihak penerbit. Saya akan selalu berpositif thinking, apa pun itu. Hingga 3 kali saya tanyakan pun tak sekalipun mereka membalas. Hingga saya pun menarik naskah saya dengan sedih.  

Kenapa bisa seperti itu?

Menurut saya, ada banyak alasan. Misalnya : mereka sudah tak suka tema yang saya ajukan sejak pertama kali baca (muak mungkin naskah tema gitu-gitu saja hihihi). Bisa jadi juga ajuan saya kurang lengkap (karena setiap penerbit memiliki standar konsep ajuan) mungkin saya belum tahu itu. Bisa juga sih karena saya kurang dikenal (penulis baru), hingga ada sedikit kekhawatiran untuk menerbitkan. Normal saja sih jika mereka lebih nyaman bekerjasama dengan penulis andalan mereka. Itu sih prediksi saya.

2. Kirim naskah, suruh ubah format, ujung-ujungnya ditolak juga.

Nah ini menohok juga guys haha... saya pernah mengirimkan naskah format kumpulan cerpen, disuruhlah ganti format jadi picture book berseri. Artinya apa coba? Ya nulis lagi dari awal dengan format beda guys! Ditambah lagi dengan deadline lo. Apa nggak bikin saya ketar ketir dan stress coba. 

Pas sudah kelar, kirimlah tuh naskah. Nunggu lagi sebulanan barulah ada jawaban kalau naskah saya temanya sudah umum. Sudah banyak yang buat, eksekusi juga biasa katanya. Jadi penerbit tidak bersedia menerbitkan naskah saya. Menghadapi yang begini saya hanya bisa mendoakan mereka dan berucap laahaula wala quwwata illa billah. 

Kenapa bisa demikian?

Menurut saya format baru yang saya buat tidak memuaskan penerbit. Mungkin juga ada penulis lain yang mengajukan naskah tema sama namun eksekusinya keren, atau bisa juga penulis itu lebih dikenal (penulis senior). Yang jelas penulis senior sudah memiliki banyak penggemar pastinya, sehingga penerbit pun tak segan menerima naskahnya walau pun tak selalu begitu. Itu sih sah-sah saja ya. Sekali lagi ini hanya pendapat pribadi saya ya. 

3. Kirim, disuruh nunggu hingga 8 bulan, ditolak juga akhirnya hehe

Ini juga cukup menghancurkan mood hahaha... bagaimana tidak? Diberikan harapan palsu coba, siapa yang tahan? hihi.. 

Awalnya disuruh nunggu, lalu disuruh nunggu lagi, dan lagi. Hingga akhirnya mereka menyatakan kalau mereka tidak sedang membutuhkan tema itu. Yah, resiko la ya. Haha... Tapi mbok yo terima aja lo mas, mbak. Biar saya senang gitu. 

4. Kirim, Naskah ACC, Terbitnya yang Lama

Ini sebetulnya sudah sangat mendig banget. Alhamdulillah naksah di acc dan diproses hingga siap terbit, namun tidak jadi diterbitkan dalam waktu yang dekat. Alasannya sih, menunggu momentum yang tepat. Ya, kembali lagi memang penerbit kan nyari profit, makanya segala sesuatu perlu dipikirkan matang-matang. Untuk kejadian seperti ini sih kita sebagai penulis hanya perlu bersabar. 


Iya, menjadi seorang penulis artinya harus berteman dengan kesabaran. 

5. Kirim Naskah, Ternyata Ketlisut!

Nah ini kadang bikin gemes juga sih hihihi... bagaimana tidak? Kita udah menyangkanya naskah kita udah direview, eh ternyata dibaca pun belum. Ini pernah kejadian dua kali pada saya. Kirim naskah, setelah 3 bulan saya tanyakan ternyata Editor nggak tahu kalau saya kirim naskah itu. Alhasil saya disuruh nunggu dua bulan lagi. Ini juga ujian kesabaran. 

6. Maaf Kami Sedang Tidak Menerima Naskah

Biasanya saya kalau mau mengirimkan naskah ke penerbit yang belum pernah saya kirimi akan tanya dulu ke admin yang pegang akun medsosnya. Entah itu instagram atau facebook. Dan ada beberapa admin yang paham benar keadaan penerbitnya. Dia langsung bisa menolak naskah dengan halus. "Maaf untuk saat ini kami sedang tidak menerima naskah baru." begitu katanya. Admin seperti ini sebetulnya sangat membantu, artinya kita tidak perlu nunggu berapa bulan untuk mengetahui kabar naskah. 



7. Editornya Resign

Saya mengalami ini dua kali di penerbit berbeda. Yang pertama, naskah saya sepertinya disukai oleh Editor tersebut, namun beberapa bulan kemudian resign. Dan, karena komunikasi hanya lewat email, akhirnya tidak jelas dan saya tarik naskahnya. Lalu ada lagi nih baru-baru ini. Naskah saya dilimpahkan karena Editor sakit dan memutuskan resign. Begitu saya email editor yang baru, tak ada respon (tapi masih optimis, mungkin nanti akan dibalas). Semoga ya. 

Nah itu dia tujuh kendala penulis pemula saat berjuang menembus penerbit mayor versi saya. Pure itu mah catatan saya, dan tak bisa disamakan dengan kisah siapa pun. Ini hanya bagian kecil kisah dari perjalanan saya sebagai penulis pemula, bagian besarnya tentu saja lebih banyak sukanya. Jadi jangan takut gagal, coba lagi dan lagi. Semakin ditolak, harus semakin semangat dan semakin banyak kirim. Saya pernah ditolak tiga kali berturut-turut oleh penerbit besar, alhamdulillah di naskah keempat akhirnya diterima. 

Perbanyak baca, perbanyak informasi, dan bergaullah dalam lingkungan yang positif. Jangan lupa juga minta doa suami jika emak seperti saya, minta doa orang tua terutama ibu, dan tetap laksanakan pekerjaan utama sebagai ibu dan istri di rumah dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah memudahkan usaha kita semuanya, aamiin. 

Mojokerto, 20 September 2019


Selasa, 16 Oktober 2018

Inilah 7 Tips Jitu yang Wajib Dilakukan oleh Penulis Pemula Agar Sukses!





Halo Gaesss... selamat pagii... happy weekend ya...

Banyak penulis pemula yang bertanya kepada saya, maupun ke teman saya yang lebih senior di bidang menulis, bagaimana sih tips jitu menjadi penulis sehebat atau sekeren Mbak A (penulis idolanya)? Kok bisa sih langsung cetar begitu dalam waktu cepat? Acc sana sini, terbit sana sini, siapa yang tidak mau coba! 

Berdasarkan pengalaman yang masih seuprit, saya akan  memberikan sedikit rahasianya agar kalian cepat naik kelas dan mulai mendapatkan kesuksesan pertama kalian. 

Apa sih rahasianya? 



Gaess, menulis itu mudah, anak SD-pun bisa melakukannnya. Tetapi membuat tulisan yang disukai dan diminati penerbit itu tak mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, motivasi, belajar terus menerus hingga akhirnya kamu tahu banyak hal. Buka mata, buka telinga, baca dan serap berbagai ilmu yang mungkin kamu dapat di mana saja. Follow akun penulis senior, masuk di grup kepenulisan, karena di sana acapkali ada materi gratis lo untuk para pemula. 


Kok bisa sih Mbak itu lagi Mbak itu lagi yang diterima naskahnya di penerbit? Aku kapan dong?
Hai Gaess, ketahuilah bahwa seorang penulis senior pun pernah junior, pernah terseok-seok, pernah dibully bahkan ditipu, sering ditolak, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya. Mereka yang saat ini kamu lihat sebagai orang yang hebat dan ngetop, dahulunya sama kerasnya berjuang bahkan mungkin lebih keras lagi dari kita. 

Mau cepat mendapat hasil? Yuk simak tips jitunya di bawah ini. Ini sudah saya praktikan sendiri dan alhamdulillah berhasil. 

1.Nikmati prosesnya

Semalam mengikuti sharing dari penulis buku nonfiksi religi, beliau juga seorang Ustad. Beliau menuturkan bahwa naskahnya diterima oleh penerbit hanya dalam waktu 30 menit saja. Sampai-sampai temannya tidak percaya. Ya, beliau bilang bahwa dibalik 30 menit itu ada dua tahun lamanya dia belajar merangkai kata hingga menjadi tulisan yang ciamik. Dua tahun konsisten. Kamu baru berapa bulan? Sudahkan konsisten belum? Beliau melalui proses dengan menikmatinya. Tidak ada keluhan, semuanya dilakukan dengan ikhlas. Dan, hasilnya pun tak sia-sia. 

2. Baca

Ya, baca ibarat amunisi bagi seorang penulis. Dia akan mudah menulis jika di kepalanya sudah banyak ilmu yang diserap. Membaca buku apa saja tentu akan memperkaya wawasan kita yang tentunya akan berpengaruh pada fase mencari ide atau gagasan. Dengan membaca juga membuat tulisan yang kita buat tak akan mentok (stuck), karena kita telah memiliki banyak stok ide di kepala. Masih males baca?

3. Memiliki "Dapur" yang Komplit

Menulis tentu saja akan membutuhkan banyak referensi apalagi untuk tulisan nonfiksi yang notabene tidak boleh ngarang. Jika kita memiliki dapur (perpustakaan) yang komplit tentu memudahkan kita untuk menulis. Milikilah buku-buku referensi yang akan menunjang tulisanmu. Beruntung bagi kamu yang sudah memiliki dapur yang komplit dan rajin baca. Kamu hanya perlu sedikit usaha lagi.

4. Konsisten Berlatih

Hai hai, kamu! Iya kamu! Menulis membutuhkan proses. Seseorang yang konsisten berlatih tentu akan memiliki tulisan yang lebih baik dan enak dibaca daripada yang tidak pernah latihan. Menulis selain membutuhkan ilmu, juga membutuhkan kedisiplinan. Yang paling paham kondisi kamu ya kamu sendiri, maka buatlah jadwal menulis sesuai dengan waktu yang kamu bisa dan cobalah untuk konsisten.

5. Ikut Training kepenulisan

Nah, jika kamu memiliki uang, ikutlah kelas menulis dengan genre yang kamu minati. Tidak perlu mahal, sesuaikan dengan budget kamu. Setelah ikut kelas menulis, maka saatnya kamu mengamalkan ilmu alias praktik. Ingat, PRAKTIK! (pakai pengeras suara). Suka menyayangkan saja sama teman yang hobi ikut kelas menulis, tapi tidak pernah praktik! Sayang atuh ilmunya. Percayalah, jika kamu benar-benar praktik dari satu training saja yang kamu ikuti, maka pasti akan mendapatkan hasil. Pasti! Saya sudah membuktikannya lo. 

Rekomendasi training yang bisa kamu ikuti : genre anak (Winner Class Kang Ali Muakhir, Wonderland Family, Kurcaci Pos, Kulwap Watiek Ideo, Permen Uni Dian, dll), Fiksi dan Novel (Cloverline Creative, MDP-nya Kak Rosi Simamora, Kelas Mabk Achi TM, Kelas Ary Nilandari, dll) dan masih banyak lagi training online yang bisa kamu ikuti. Jangan pelit kalau mau bisa, harus berani bayar. 



6. Jangan Baper

Ketika berproses, adakalanya kamu menemukan ketidaknyamanan ketika dikritik. Buka mind set kamu, camkan dalam otak bahwa kritik yang kamu anggap pedas itu sebetulnya untuk kebaikan kamu. Banyak penulis pemula yang ogah-ogahan dikritik, padahal dengan kritik kita jadi tahu dimana letak kesalahannya dan segera memperbaikinya. Terima kritik dan jadikan itu pelajaran untuk karyamu agar lebih baik.

Bagaimana akan tahu letak kesalahannya jika di kasih masukan aja nggak terima? Ya kan?

Tapi, tidak perlu pedas begitu kelesss! 
Haaaii, setiap orang memiliki style sendiri dalam mengkritik. Jangan baper dong kalau mau maju.  
Saya pernah merasa terharu ketika ada seorang peserta training cerpen yang saya kasih krisan (kritik dan saran) mengatakan bahwa gara-gara saya yang sedikit galak waktu itu (sedikit ya), dia jadi belajar banyak. Endingnya kini, cerpennya dipuji oleh sang mentor. Mantap kan?
Beda lagi cerita kalau dia dulu sebel dan ngedumel lalu berhenti menulis. 

7. Mencari Bukan Menunggu

Ini maksudnya buat kamu yang ingin mencoba peruntungan mengirim ke penerbit. Jadi intinya kamu harus mencari tahu bukan menunggu kesempatan. Kamu harus aktif mencari informasi baik itu ke sesama penulis yang sudah senior maupun ke penerbit sendiri. Jadilah orang yang SKSD di jalan yang BENAR. Gimana itu maksudnya ya? Ya gitu deh, silakan artikan sendiri.


Gaes, itulah sedikit cuap-cuap dari  saya tentang tips jitu untuk penulis pemula agar mulai mendapatkan kesuksesan pertamanya. Saya juga yang masih terus belajar dan akan terus begitu. Jika ada pengalaman lain yang kalian punya, boleh tulis dikomentar ya. Semua penjelasan di atas adalah hasil dari pengalaman dan pengamatan saya, maafken jika ada salah-salah kata. Doakan agar buku-buku saya segera terbit, supaya bisa berbagi pengalaman lagi pada kalian ya. 

Teruslah menulis dan terus upgrade tulisanmu!