Tampilkan postingan dengan label Penulis pemula. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis pemula. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2020

Menjaga Semangat Menulis Saat Pandemi Corona

 


Virus corona nyatanya tak kunjung pergi dari negeri kita tercinta ini. Indonesia bahkan dijadikan negara yang paling ditakuti dunia karena angka pasien coronanya yang kian meningkat bahkan tidak terkendali. Sebanyak 60 lebih negara dunia menutup diri /tidak mengizinkan warga negara Indonesia masuk negara mereka. Mereka menganggap penanganan pandemi di Indonesia tidak berhasil. Masyarakat Indonesia untuk pertama kali dianggap berbahaya. Ini merupakan prestasi yang memalukan, bukan?

Baca juga : Menabur kebaikan lewat komik

            Apa pun itu, saya  kira pemerintah Indonesia tentu saja telah melakukan berbagai cara untuk menurunkan angka penderita covid-19, namun kenyataannya dipandang kurang efektif dan tidak berhasil. PSBB jilid 1 hingga new normal bukannya berhasil meredam angka penderira, tapi malah makin meningkat. Berbagai spekulasi tentang corona turut andil menciptakan makin carit marutnya kebijakan serta kedaaan. Masyarakat dibuat bingung, harus bersikap apa? Akhirnya pandangan masyarakat pun terbagi dua : taat pemerintah dengan melakukan protokol kesehatan dan tidak percaya bahwa covid-19 ini seganas yang diberitakan. Saya pribadi sih lebih baik memupuk energi positif untuk tetap semangat  menulis hehe…

Pandemi dan Geliat Para Penulis

            Bila mau jujur, Pandemi ini jelas sangat berdampak pada semua sektor, termasuk dunia tulis menulis. Tak sedikit penerbit mayor yang memutuskan untuk vaccum /istirahat dari menerbitkan buku. Bahkan ada beberapa penerbit yang mengembalikan naskah pada penulis, karena tak lagi berkenan menerbitkan dalam bentuk buku cetak. Apa pasal? Ya karena daya beli masyarakat akan buku menurun. Bahkan bisa dibilang kunjungan masyarakat ke toko buku, nyaris tak ada lagi. Hal ini dikarenakan faktor kebijakan PSBB hingga masyarakat lebih memprioritaskan urusan makan dan Kesehatan.

            Yang masih berkenan membeli buku bacaan mungkin saat ini bisa dibilang sangat menurun dari sebelum pandemi. Walau begitu, geliat membeli buku lewat online sepertinya masih menjanjikan. Saat tidak boleh keluar rumah, solusinya memang beli online. Sayangnya, tak semua penerbit juga “mujur” di jalur ini. Tetap saja kurang menjanjikan. Makanya, sementara waktu beberapa panerbit besar menutup diri/ tak meng -ACC naskah penulis dulu hingga waktu tak ditentukan. Bahkan yang dalam proses pun terpaksa dihentikan hingga waktu yang tak tentu juga.

            Sebagian penulis tentu saja akhirnya juga menurunkan produktivitasnya, terutama bagi mereka yang terbiasa menerbitkan buku di penerbit mayor. Walau begitu, bagi Sebagian yang lainnya tetap pada struggle dengan terus menulis, apa pun keadaannya.

Menjaga semangat menulis

            Memang tak mudah menulis dalam keadaan seperti sekarang. Nulis dan nulis tapi entah kemanakan itu tulisannya? Mau diterbitkan dimana? Mungkin itu yang menjadi ganjalan para penulis. Tetapi bagi saya pribadi menulis adalah panggilan hati, ketika tak menulis rasanya ada yang kurang.

            Bagaimana sih cara menjaga semangat menulis saat pandemi ini?

1.      Cek lagi Niat menulis

Seorang Editor salah satu Penerbit Mayor berkata, “kalau sudah cinta, apa pun yang terjadi akan tetap menulis. Maka rasa cinta menulis itu adalah anugerah, tak semua memiliki rasa itu.”

Ya, cinta memang berat, biar aku saja hehe. Jika sudah cinta apa pun yang terjadi akan tetap  semangat menulis. Hal ini juga bisa dikuatkan dengan niat kita berbagi ilmu /sedekah ilmu. Niat menjadi penulis memang sangat perlu, hal ini akan membuat kita terus semangat menulis apa pun yang terjadi.  Bagi yang sudah cinta bahkan menulis itu bukan soal fee atau dibayar atau royaltian, tapi lebih dari itu. Serasa ada yang kurang saja jika tak melakukannya.

2.      Coba Lirik Jalur Indie atau Self Publishing

Dari salah satu Editor saya juga mendapatkan informasi ternyata penerbitan indie atau self publishing juga menguntungkan lo. Apalagi saat ini penerbit mayor sedang lesu/tidak menerima naskah. Banyak lo penulis yang tak kalah sukses lewat jalur indie. Seperti halnya Dee Lestari atau penulis hebat lainnya yang memanfaatkan penerbit Indie. Kuncinya adalah dua : Tulisan yang oke punya dan branding penulisnya. Jika du aitu sudah tercapai, insya Allah akan best seller terus bukunya.

Oh iya, menerbitkan di indie atau self publishing lebih menguntungkan dari segi royalti, karena biasanya memberikan persen royalti lebih besar dari penerbit mayor. Bahkan ada lo yang mendapatkan royalti 100%. Tentu saja ini memberikan keuntungan lebih untuk penulis, dengan catatan yaitu tadi syaratnya ada dua.

3.      Cobalah ikut menulis di Jalur Platform Digital

Saat ini memang sedang marak platform digital ya. Hal ini tidak lain karena pembaca sudah mulai melirik bacaan ebook atau semacamnya.  Banyak platform digital yang kini menjanjikan penghasilan yang lumayan juga. Semakin banyak yang baca, semakin banyak penghasilan penulis.

Contoh tempat menulis digital : cabaca, storial, kwiku, kbm app, dll.

Nah, cobalah untuk menulis di platform tersebut.

4.      Ikutilah Training-Training Online

Ini kelas diseleggarakan Mbak Mutiara Fhatrina dengan saya sebagai Narsum, tanggal fix-nya adalah 15-16 Oktober.

Ikut training menulis juga akan membuat kita makin semangat. Sekarang marak diadakan training online dan itu sangat berguna untuk tetap menjaga semangat menulis. Mungkin teman-teman bisa juga ikut training yang di luar zona nyaman, agar mendapatkan ilmu dan semangat baru.

5.      Bergabung dalam Komunitas Menulis

Berkomunitas sangatlah bermanfaat bagi penulis. Sekarang banyak bertebaran komunitas menulis online di media sosial. Masuklah ke sana dan aktif di dalamnya. Selain menambah ilmu, berlatih juga mendapatkan relasi satu passion.

6.      Saatnya Meningkatkan Branding Diri

Saat sekarang penulis bukan hanya dituntut bisa menulis, juga bisa membranding diri. Penulis yang disukai penerbit adalah penulis yang juga bisa menjual tulisannya. Karena memiliki nilai plus ini, saat keadaan seperti sekarang, dia tetap akan produktif dan bukunya kemungkinan besar tetap laku, karena sudah punya pasar /audience.

7.      Ikut Lomba

Lomba menulis tentu saja memiliki andil sendiri dalam meningkatkan semangat. Ketika di hadapkan pada sebuah lomba yang berhadiah lumayan, penulis terpacu untuk ikutan. Ini tentu saja sangat bermanfaat, bukan saja soal uang yang akan didapat tapi juga latihan dan usahanya. Kalau pun kalah, tetap menyenangkan karena sesungguhnya dengan ikutan lomba juga anda telah menang.

8.      Jangan lupa rehat dan nikmati hobi

Saat sudah suntuk dan capek, istirahatlah. Nikmati hobi lain yang akan meningkatkan kembali semangat. Beri reward pada diri sendiri jika sebuah tulisan selesai dibuat. Apa saja yang membuat anda senang. 

            Nah, itulah cara menjaga semangat menulis agar tetap menyala dan tak berhenti karena alasan pandemi. Ini dibuat berdasarkan pribadi diri sendiri yang juga berusaha tetap konsisten menulis. Alhamdulillah tanpa diduga, saat pandemi ini buku saya malah ada beberapa terbit di penerbit Ziyad Visi Media terutama. Yang pertama buku seri Masterkids (Meneladani Sifat dan Karakter Rasulullah), kedua seri Shahabiyyah dan ketiga yang masih sedang masa PRE ORDER adalah buku seri Amazing Ilmuwan Muslim Mendunia. Berhadiah kaos yang nyaman dipakai. PO masih bisa sampai tanggal 28 September (diperpanjang alhamdulillah). Jika berkenan ikut PO buku anak Ilmuwan Muslim mendunia silakan hubungi saya (wa : 08113032340).

            Selamat siang dan terima kasih.

 

 

 

 

           

 

Jumat, 20 September 2019

7 Kendala Penulis Pemula Saat Berjuang Menembus Penerbit Mayor




Hai hai, selamat malam. 

Tulisan ini sih sebetulnya hanya pengalaman saya saja saat berjuang menaklukan si Dia (eh maksudnya penerbit). Jadi tidak bisa digeneralisasikan untuk semua orang ya. Ada penulis yang lebih mudah jalannya mungkin, ada juga yang bahkan lebih sulit dari cerita saya ini. Dan, pengalaman saya ini lebih fokus mengirimkan naskah untuk buku anak ya. Karena buku nonfiksi dewasa atau pun novel mungkin prosesnya beda. 

Baca juga : 30 Penerbit Mayor yang Menerima Naskah Anak


Kenapa sih harus penerbit mayor?

Bagi saya, mengajukan naskah ke penerbit mayor adalah tantangan. Sebuah tantangan yang harus saya taklukan. Penerbit mayor pasti memiliki standar naskah yang menurut mereka bagus. Mereka juga tak sembarangan menerima naskah yang masuk, artinya saya harus berkompetisi dengan penulis seluruh Indonesia. Karena itu, saya kudu bisa memenuhi standar itu. Saya kudu bisa membuat naskah yang unik, yang bisa membuat penerbit tertarik. Itulah muara akhir dari pembelajaran menulis saya selama ini. Artinya, jika di penerbit mayor tulisan saya sudah oke, berarti tulisan saya sudah mulai berkembang. 

Tetapi bukan berarti menerbitkan di penerbit indie tidak bagus, tetap bagus. Hanya saja kurang ada tantangannya menurut saya. 

Menerbitkan buku ternyata tidak mudah dan murah lo. Apalagi naskah cerita anak yang memerlukan waktu lebih lama, karena harus digambar dulu /ilustrasi. Di penerbit mayor, biasanya mereka mencetak buku sekitar 1500-2000 eksempler sekali cetak. Cetak banyak pastinya membutuhkan banyak biaya dong. Makanya mereka harus yakin dulu dengan naskah yang akan diterbitkan. Biasanya mereka melakukan survey pasar dan melihat peluang. Pokoknya pertimbangannnya kudu banyak, karena kan biayanya tidak murah. 

Mengirimkan naskah juga memerlukan kesabaran tingkat tinggi lo. Ada saja yang membuat kita kesal, sedih dan down. Nah, saya akan berbagi pengalaman khususnya yang Sangat Indah (Baca : kurang menyenangkan) saat mengirimkan naskah kepada penerbit nasional tentunya. Karena seorang penulis baik akan siap menerima pujian dan kesenangan, juga harus siap dengan segala kegagalan atau kedukaannya. Kuy ah cekidot!


1. Kirim naskah, No respon 

Ini pengalaman yang paling getir sih menurut saya. Karena bagi saya lebih baik ditolak dengan tegas, daripada tidak dibalas sama sekali. Yah tapi mungkin kembali lagi ke kesibukan pihak penerbit. Saya akan selalu berpositif thinking, apa pun itu. Hingga 3 kali saya tanyakan pun tak sekalipun mereka membalas. Hingga saya pun menarik naskah saya dengan sedih.  

Kenapa bisa seperti itu?

Menurut saya, ada banyak alasan. Misalnya : mereka sudah tak suka tema yang saya ajukan sejak pertama kali baca (muak mungkin naskah tema gitu-gitu saja hihihi). Bisa jadi juga ajuan saya kurang lengkap (karena setiap penerbit memiliki standar konsep ajuan) mungkin saya belum tahu itu. Bisa juga sih karena saya kurang dikenal (penulis baru), hingga ada sedikit kekhawatiran untuk menerbitkan. Normal saja sih jika mereka lebih nyaman bekerjasama dengan penulis andalan mereka. Itu sih prediksi saya.

2. Kirim naskah, suruh ubah format, ujung-ujungnya ditolak juga.

Nah ini menohok juga guys haha... saya pernah mengirimkan naskah format kumpulan cerpen, disuruhlah ganti format jadi picture book berseri. Artinya apa coba? Ya nulis lagi dari awal dengan format beda guys! Ditambah lagi dengan deadline lo. Apa nggak bikin saya ketar ketir dan stress coba. 

Pas sudah kelar, kirimlah tuh naskah. Nunggu lagi sebulanan barulah ada jawaban kalau naskah saya temanya sudah umum. Sudah banyak yang buat, eksekusi juga biasa katanya. Jadi penerbit tidak bersedia menerbitkan naskah saya. Menghadapi yang begini saya hanya bisa mendoakan mereka dan berucap laahaula wala quwwata illa billah. 

Kenapa bisa demikian?

Menurut saya format baru yang saya buat tidak memuaskan penerbit. Mungkin juga ada penulis lain yang mengajukan naskah tema sama namun eksekusinya keren, atau bisa juga penulis itu lebih dikenal (penulis senior). Yang jelas penulis senior sudah memiliki banyak penggemar pastinya, sehingga penerbit pun tak segan menerima naskahnya walau pun tak selalu begitu. Itu sih sah-sah saja ya. Sekali lagi ini hanya pendapat pribadi saya ya. 

3. Kirim, disuruh nunggu hingga 8 bulan, ditolak juga akhirnya hehe

Ini juga cukup menghancurkan mood hahaha... bagaimana tidak? Diberikan harapan palsu coba, siapa yang tahan? hihi.. 

Awalnya disuruh nunggu, lalu disuruh nunggu lagi, dan lagi. Hingga akhirnya mereka menyatakan kalau mereka tidak sedang membutuhkan tema itu. Yah, resiko la ya. Haha... Tapi mbok yo terima aja lo mas, mbak. Biar saya senang gitu. 

4. Kirim, Naskah ACC, Terbitnya yang Lama

Ini sebetulnya sudah sangat mendig banget. Alhamdulillah naksah di acc dan diproses hingga siap terbit, namun tidak jadi diterbitkan dalam waktu yang dekat. Alasannya sih, menunggu momentum yang tepat. Ya, kembali lagi memang penerbit kan nyari profit, makanya segala sesuatu perlu dipikirkan matang-matang. Untuk kejadian seperti ini sih kita sebagai penulis hanya perlu bersabar. 


Iya, menjadi seorang penulis artinya harus berteman dengan kesabaran. 

5. Kirim Naskah, Ternyata Ketlisut!

Nah ini kadang bikin gemes juga sih hihihi... bagaimana tidak? Kita udah menyangkanya naskah kita udah direview, eh ternyata dibaca pun belum. Ini pernah kejadian dua kali pada saya. Kirim naskah, setelah 3 bulan saya tanyakan ternyata Editor nggak tahu kalau saya kirim naskah itu. Alhasil saya disuruh nunggu dua bulan lagi. Ini juga ujian kesabaran. 

6. Maaf Kami Sedang Tidak Menerima Naskah

Biasanya saya kalau mau mengirimkan naskah ke penerbit yang belum pernah saya kirimi akan tanya dulu ke admin yang pegang akun medsosnya. Entah itu instagram atau facebook. Dan ada beberapa admin yang paham benar keadaan penerbitnya. Dia langsung bisa menolak naskah dengan halus. "Maaf untuk saat ini kami sedang tidak menerima naskah baru." begitu katanya. Admin seperti ini sebetulnya sangat membantu, artinya kita tidak perlu nunggu berapa bulan untuk mengetahui kabar naskah. 



7. Editornya Resign

Saya mengalami ini dua kali di penerbit berbeda. Yang pertama, naskah saya sepertinya disukai oleh Editor tersebut, namun beberapa bulan kemudian resign. Dan, karena komunikasi hanya lewat email, akhirnya tidak jelas dan saya tarik naskahnya. Lalu ada lagi nih baru-baru ini. Naskah saya dilimpahkan karena Editor sakit dan memutuskan resign. Begitu saya email editor yang baru, tak ada respon (tapi masih optimis, mungkin nanti akan dibalas). Semoga ya. 

Nah itu dia tujuh kendala penulis pemula saat berjuang menembus penerbit mayor versi saya. Pure itu mah catatan saya, dan tak bisa disamakan dengan kisah siapa pun. Ini hanya bagian kecil kisah dari perjalanan saya sebagai penulis pemula, bagian besarnya tentu saja lebih banyak sukanya. Jadi jangan takut gagal, coba lagi dan lagi. Semakin ditolak, harus semakin semangat dan semakin banyak kirim. Saya pernah ditolak tiga kali berturut-turut oleh penerbit besar, alhamdulillah di naskah keempat akhirnya diterima. 

Perbanyak baca, perbanyak informasi, dan bergaullah dalam lingkungan yang positif. Jangan lupa juga minta doa suami jika emak seperti saya, minta doa orang tua terutama ibu, dan tetap laksanakan pekerjaan utama sebagai ibu dan istri di rumah dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah memudahkan usaha kita semuanya, aamiin. 

Mojokerto, 20 September 2019


Selasa, 16 Oktober 2018

Inilah 7 Tips Jitu yang Wajib Dilakukan oleh Penulis Pemula Agar Sukses!





Halo Gaesss... selamat pagii... happy weekend ya...

Banyak penulis pemula yang bertanya kepada saya, maupun ke teman saya yang lebih senior di bidang menulis, bagaimana sih tips jitu menjadi penulis sehebat atau sekeren Mbak A (penulis idolanya)? Kok bisa sih langsung cetar begitu dalam waktu cepat? Acc sana sini, terbit sana sini, siapa yang tidak mau coba! 

Berdasarkan pengalaman yang masih seuprit, saya akan  memberikan sedikit rahasianya agar kalian cepat naik kelas dan mulai mendapatkan kesuksesan pertama kalian. 

Apa sih rahasianya? 



Gaess, menulis itu mudah, anak SD-pun bisa melakukannnya. Tetapi membuat tulisan yang disukai dan diminati penerbit itu tak mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketekunan, motivasi, belajar terus menerus hingga akhirnya kamu tahu banyak hal. Buka mata, buka telinga, baca dan serap berbagai ilmu yang mungkin kamu dapat di mana saja. Follow akun penulis senior, masuk di grup kepenulisan, karena di sana acapkali ada materi gratis lo untuk para pemula. 


Kok bisa sih Mbak itu lagi Mbak itu lagi yang diterima naskahnya di penerbit? Aku kapan dong?
Hai Gaess, ketahuilah bahwa seorang penulis senior pun pernah junior, pernah terseok-seok, pernah dibully bahkan ditipu, sering ditolak, dan berbagai ketidaknyamanan lainnya. Mereka yang saat ini kamu lihat sebagai orang yang hebat dan ngetop, dahulunya sama kerasnya berjuang bahkan mungkin lebih keras lagi dari kita. 

Mau cepat mendapat hasil? Yuk simak tips jitunya di bawah ini. Ini sudah saya praktikan sendiri dan alhamdulillah berhasil. 

1.Nikmati prosesnya

Semalam mengikuti sharing dari penulis buku nonfiksi religi, beliau juga seorang Ustad. Beliau menuturkan bahwa naskahnya diterima oleh penerbit hanya dalam waktu 30 menit saja. Sampai-sampai temannya tidak percaya. Ya, beliau bilang bahwa dibalik 30 menit itu ada dua tahun lamanya dia belajar merangkai kata hingga menjadi tulisan yang ciamik. Dua tahun konsisten. Kamu baru berapa bulan? Sudahkan konsisten belum? Beliau melalui proses dengan menikmatinya. Tidak ada keluhan, semuanya dilakukan dengan ikhlas. Dan, hasilnya pun tak sia-sia. 

2. Baca

Ya, baca ibarat amunisi bagi seorang penulis. Dia akan mudah menulis jika di kepalanya sudah banyak ilmu yang diserap. Membaca buku apa saja tentu akan memperkaya wawasan kita yang tentunya akan berpengaruh pada fase mencari ide atau gagasan. Dengan membaca juga membuat tulisan yang kita buat tak akan mentok (stuck), karena kita telah memiliki banyak stok ide di kepala. Masih males baca?

3. Memiliki "Dapur" yang Komplit

Menulis tentu saja akan membutuhkan banyak referensi apalagi untuk tulisan nonfiksi yang notabene tidak boleh ngarang. Jika kita memiliki dapur (perpustakaan) yang komplit tentu memudahkan kita untuk menulis. Milikilah buku-buku referensi yang akan menunjang tulisanmu. Beruntung bagi kamu yang sudah memiliki dapur yang komplit dan rajin baca. Kamu hanya perlu sedikit usaha lagi.

4. Konsisten Berlatih

Hai hai, kamu! Iya kamu! Menulis membutuhkan proses. Seseorang yang konsisten berlatih tentu akan memiliki tulisan yang lebih baik dan enak dibaca daripada yang tidak pernah latihan. Menulis selain membutuhkan ilmu, juga membutuhkan kedisiplinan. Yang paling paham kondisi kamu ya kamu sendiri, maka buatlah jadwal menulis sesuai dengan waktu yang kamu bisa dan cobalah untuk konsisten.

5. Ikut Training kepenulisan

Nah, jika kamu memiliki uang, ikutlah kelas menulis dengan genre yang kamu minati. Tidak perlu mahal, sesuaikan dengan budget kamu. Setelah ikut kelas menulis, maka saatnya kamu mengamalkan ilmu alias praktik. Ingat, PRAKTIK! (pakai pengeras suara). Suka menyayangkan saja sama teman yang hobi ikut kelas menulis, tapi tidak pernah praktik! Sayang atuh ilmunya. Percayalah, jika kamu benar-benar praktik dari satu training saja yang kamu ikuti, maka pasti akan mendapatkan hasil. Pasti! Saya sudah membuktikannya lo. 

Rekomendasi training yang bisa kamu ikuti : genre anak (Winner Class Kang Ali Muakhir, Wonderland Family, Kurcaci Pos, Kulwap Watiek Ideo, Permen Uni Dian, dll), Fiksi dan Novel (Cloverline Creative, MDP-nya Kak Rosi Simamora, Kelas Mabk Achi TM, Kelas Ary Nilandari, dll) dan masih banyak lagi training online yang bisa kamu ikuti. Jangan pelit kalau mau bisa, harus berani bayar. 



6. Jangan Baper

Ketika berproses, adakalanya kamu menemukan ketidaknyamanan ketika dikritik. Buka mind set kamu, camkan dalam otak bahwa kritik yang kamu anggap pedas itu sebetulnya untuk kebaikan kamu. Banyak penulis pemula yang ogah-ogahan dikritik, padahal dengan kritik kita jadi tahu dimana letak kesalahannya dan segera memperbaikinya. Terima kritik dan jadikan itu pelajaran untuk karyamu agar lebih baik.

Bagaimana akan tahu letak kesalahannya jika di kasih masukan aja nggak terima? Ya kan?

Tapi, tidak perlu pedas begitu kelesss! 
Haaaii, setiap orang memiliki style sendiri dalam mengkritik. Jangan baper dong kalau mau maju.  
Saya pernah merasa terharu ketika ada seorang peserta training cerpen yang saya kasih krisan (kritik dan saran) mengatakan bahwa gara-gara saya yang sedikit galak waktu itu (sedikit ya), dia jadi belajar banyak. Endingnya kini, cerpennya dipuji oleh sang mentor. Mantap kan?
Beda lagi cerita kalau dia dulu sebel dan ngedumel lalu berhenti menulis. 

7. Mencari Bukan Menunggu

Ini maksudnya buat kamu yang ingin mencoba peruntungan mengirim ke penerbit. Jadi intinya kamu harus mencari tahu bukan menunggu kesempatan. Kamu harus aktif mencari informasi baik itu ke sesama penulis yang sudah senior maupun ke penerbit sendiri. Jadilah orang yang SKSD di jalan yang BENAR. Gimana itu maksudnya ya? Ya gitu deh, silakan artikan sendiri.


Gaes, itulah sedikit cuap-cuap dari  saya tentang tips jitu untuk penulis pemula agar mulai mendapatkan kesuksesan pertamanya. Saya juga yang masih terus belajar dan akan terus begitu. Jika ada pengalaman lain yang kalian punya, boleh tulis dikomentar ya. Semua penjelasan di atas adalah hasil dari pengalaman dan pengamatan saya, maafken jika ada salah-salah kata. Doakan agar buku-buku saya segera terbit, supaya bisa berbagi pengalaman lagi pada kalian ya. 

Teruslah menulis dan terus upgrade tulisanmu!